" Maaf Pak, benar ini SD Al Hanief ?", begitulah kira-kira kalimat yang aku lontarkan kepada seseorang yang menggunakan seragam security. Masih terbayang sosok sang empu seragam tersebut, perawakannya sedang, tidak terlalu tegap dan besar untuk ukuran petugas keamanan, namun sangat ramah dan aware kepada tamu ataupun orang tua murid di sekolah tersebut. Belakangan aku baru mengenalnya, namanya Bapak Ahmad, nama lengkapnya sudah tidak ingat lagi.
" Oh iya, benar. Bapak yang akan mengikuti tes hari ini yach?", dengan ramah beliau menjawab pertanyaan saya. "Betul, saya dipanggil untuk mengikuti tes tertulis sebagai calon guru sekolah dasar di sini. " Sebentar pak ya, saya cek dulu ke dalam", iapun melangkah ke dalam ruangan.
Itulah sekelumit percakapan yang masih saya ingat, kejadiannya sekitar bulan Agustus-September selusin tahun yang lalu. Saat tahap-tahap tes saya jalankan (waktu itu ada sekitar 4-5 tahapan sampai diterima menjadi guru), sebenarnya saya sudah bekerja juga sebagai pendidik di salah satu institusi pendidikan yang berlabelkan non muslim.
Ada beberapa peristiwa menarik yang masih terekam dengan baik di awal masa saya bekerja di SD Al Hanief, diantaranya :
- Ada beberapa tahapan tes yang kami lalui sebelum kami siap berada diantara para siswa untuk mendidik dan mengajar. Diantaranya adalah tes tertulis, psikotest, tes baca Al qur'an, Micro teaching, dan terakhir wawancara dengan ketua yayasan Al Hanief Moeliza.
- pernah suatu ketika saya, ms. Sari dan 2 teman lagi (dah lupa...) dengan didampingi oleh tim konsultan dari Mutaffanin, Bandung beserta pengurus Yayasan Al Hanief Moeliza pada suatu kesempatan pertemuan dengan orang tua murid mengalami ketegangan yang luar biasa. Yang saya ingat, waktu itu kami dipertanyakan yang menjurus meragukan secara background academic maupun kemampuan yang kami miliki, yang paling vokal dan frontal saat itu adalah Bapak Helmi Yahya yang notabene beliau adalah seorang publik figur atau istilah kerennya sekarang adalah selebirtis. Alhamdulillah, dengan pengalaman dan ketenangannya sebagai konsultan, bapak Eddy selaku senior dalam tim konsultan tersebut mampu meredam dan menciptakan suasana yang kondusif.
- Usut punya usut, ternyata selama kami menjalani tahapan-tahapan tes, sekolah tersebut khususnya yang SD sedang dtinggalkan oleh para pengajarnya. Saya tidak tahu persis ada masalah apa antara guru-guru tersebut dengan pihak yayasan sehingga sampai meninggalkan kewajibannya kepada para murid. Yang saya tahu, kami diterima sebanyak 4 orang untuk menjadi guru menggantikan mereka yang akhirnya tidak bergabung lagi dengan Al Hanief.
Tahun-tahun pertama saya mengajar gedung SD masih bercampur dengan KB dan TK Al Hanief. SD menempati lantai 2. Gedungnya pun masih menyatu dengan rumah pengurus yayasan, hanya dipisahkan oleh sekat saja. Alamat lengkapnya adalah Jl Mitra Duta Kav. BA 03-04 Kemang Pratama, Bekasi.
Tiga tahun pertama masa pengabdian saya, perkembangan SD Al Hanief cukup menjanjikan. Meskipun SD Al Hanief tergolong sekolah dengan biaya yang lumayan besar, namun jumlah murid terus meningkat signifikan. Sehingga pada Tahun Ajaran 2004/2005 SD Al Hanief menempati gedung yang baru yang terletak di jalan Bambu Kuning Selatan RT 4/3 Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Bekasi. Tepat di samping Batalyon Infanteri (Yonif) 202 Tajimalela...
Sampai sini dulu ceritanya...... maklum masih bagian pertama dari empat yang direncananakan.
Masih banyak cerita yang disimpan, sebagai cluenya, cerita tentang bu guru cantik master sempoa, tentang "Pak Gosong", tentang pertemuan saya dengan wanita berambut panjang menjelang subuh, tentang "Di Balik Sajadah", tentang "Air Mata Marsudirini", tentang "Kembarannya Ibu Sari", tentang teman-teman yang "lenyap satu persatu", tentang "Pak Sumiharso, Ibu Erry S, Pak Dahlani, Pak Awal", dan yang paling fenomenal tentang " Character Building" serta masih banyak lagi........so wait for my stories......
TOBE CONTINUE.....................
![]() | ||||
| First generation |
![]() |
| masih ada "captun" |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar