Jumat, 20 Maret 2015

" Goresan Hati Sang Guru "

Kamis siang,...tanggal 19 Maret 2015
Waktu menunjukkan pukul 13.20 wib...sendirian di ruang kelas, teman guru yang lainnya juga mungkin ada di kelas masing-masing ataupun juga mereka sedang ngumpul di ruang guru.  
Dejavu,....terulang lagi dan memang pasti terulang.
  Siang ini, kami sangat sibuk mempersiapkan laporan perkembangan siswa untuk dikonsultasikan kepada orang tua murid keesokan harinya.
Setelah dua minggu lalu para siswa mengerjakan Ujian Tengah Semester II, tibalah hak mereka untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai yang mereka peroleh.  Bagi sebagian besar dari kami yang sudah berpengalaman, tidaklah menjadi masalah untuk menginput nilai-nilai harian mereka untuk dijadikan nilai pada rapor tengah semester dua nanti.  Tetapi yang agak membuat sedikit mumet adalah bagaimana menilai perkembangan perilaku mereka untuk dideskripsikan di dalam rapor......

Membuat deskripsi siswa memang cukup mumet tapi mengasikkan,...bagaimana tidak, saat kita membayangkan perilaku siswa saat ini terkadang teringat siswa tersebut pada awal-awal tahun mereka masuk di sekolah ini plus dengan cerita ataupun kenangan-kenangan yang tidak terlupakan.
Tapi seperti biasa, saat menulis deskripsi siswa terkadang lancar namun tidak sedikit yang otak kadang-kadang gak mau diajak mikir lagi alias deadlock ide...Nah klo lagi begini biasanya saya suka mikir yang enggak-enggak...hehehehe
Daripada gak jelas mikirin apa, biasanya saya langsung menerawang jauh ke belakang dan biasanya jadi tulisan apa aja deh yang penting ngelurusin otak lagi biar masa deadlocknya kelar.  Paling enak klo langsung nulis di blog, yach....iseng-iseng aja maenin tombol notebook..

Diluar hujan turun deraasss banget,....mana air hujannya gede-gede lagi...
Di atas sendirian, hujan, dingin, gak ada aer anget-anget buat basahin tenggorokan, gak ada cemilan buat ngencengin perut....nasib-nasib.....hihihihi

Gak terasa, sudah hampir tiga belas tahun bersama anak-anak didik menjalani kebersamaan.  Tahun ini Insha Allah kami akan meluluskan angkatan ke-9...Dalam bilangan dasar angka 9 merupakan pamungkasnya para angka, mudah-mudahan angkatan ke-9 ini nanti juga pamungkas dalam mengibarkan perilaku dan prestasi di luar Al Hanief, aamiin.  Dalam pikiran ini sudah begitu banyak yang dicurahkan untuk mereka.

Tiga belas tahun.....
cukup banyak yang sudah saya peroleh dari waktu selama itu.  Al Hanief memang sekolah yang menurut saya istimewa, mengapa?  Sampai saat ini saya belum mendapatkan data (maaf yach klo datanya ternyata gak valid) jika ada sekolah lain di kota Bekasi setaraf SD yang menjadwalkan kegiatan sholat dhuha sebagai pembelajaran reguler...Artinya sholat dhuha diberikan hak yang sama dengan pelajaran lainnya semisal matematika ataupun IPA setiap harinya.
Mengapa saya mengistimewakan hal tersebut ? mengapa bukan keistimewaan lainnya ? misalnya sekolah yang siswanya juara olimpiade ataupun sekolah yang standarnya internasional...
Mengapa saya mengistimewakan kegiatan dhuha di sekolah ini ?
Jujur saja, sebelum saya bergabung di Al Hanief ini, sangat jarang sekali saya melaksanakan sholat dhuha mungkin karena sifatnya yang sunah.  Namun, seiring perjalanan hidup dan dukungan lingkungan di sini tanpa terasa dhuha laksana perintah sholat wajib yang terus menemani saya khususnya dan juga teman-teman guru.

Begitu banyak fadhilah yang kami peroleh dari kegiatan sholat dhuha bersama para anak didik kami.  Kebiasaan dhuha berjamaah membuat anak-anak didik kami saling mengenal secara detail tentang teman-teman diluar kelasnya, baik dengan adik kelas maupun kakak kelas.  Di saat dhuha pulalah biasanya teman-teman guru memberi nasehat-nasehat ataupun tausiyah kepada mereka secara rileks tetapi sarat dengan hikmah. Yang paling menggembirakan adalah perubahan-perubahan yang signifikan secara positif pada beberapa anak didik kami yang terindikasikan siswa "istimewa" .  Memang tidak adil kelihatannya kalau penilaiannya berdasarkan efek dhuha saja, orang tua mereka juga turut berperan untuk memberikan therapi bagi anaknya yang "istimewa" tersebut.  Namun, saya sendiri sangat yakin akan fadhilah dhuha lah yang membuat perubahan-perubahan positif terhadap mereka...
Namun terlepas dari itu semua, saya terkadang merenung dan memikirkan nasib anak didik kami kelak....
Apakah mereka mampu menjaga dan mengamalkan apa-apa yang telah diterimanya di Al Hanief tercinta.
Enam tahun mendidik mereka amatlah singkat, sementara jenjang pendidikan dan langkah kehidupan mereka masih panjang.  Bagaimana mereka kelak di SMP nya, di SMA nya, di kampusnya,...bahkan di tempat kerjanya.  Akankah mereka tetap berada di jalan Allah, membela agama Allah....atau bahkan mereka menjadi musuh-musuh kami karena jauh dari agama Mu...

Ya Allah.....
Seandainya kami lebih banyak punya waktu untuk mendidik mereka lebih lama.  
Ingin rasanya merangkul mereka, bercanda dengan mereka, memberikan nasehat-nasehat kebaikan buat mereka......
Ya Rabb...
Kami hanya bisa mendo'akan mereka.  Semoga kelak mereka menjalani pendidikan di sekolah yang lebih mengutamakan keagunganMu,..kebesaranMu.




Disuatu senja...
duduk termenung seorang diri
Seorang bapak yang sehari-hari bekerja sebagai guru
Mengajarkan penuh keikhlasan
Terlihat jelas dari wajahnya segurat kekhawatiran...

Gelisah tak kunjung pergi dari pikirannya
Apa yang sedang beliau pikirkan ?
Gaji yang belum dibayar?
Cicilan atau hutang yang belum lunas?
Ataukah anak dan istri yang sedang sakit di rumah?
...........................................
 
Nampaknya bukan itu yang menjadi sumber kegelisahannya
Ia gelisah karena satu hal,
Mengkhawatirkan akan nasib anak didiknya kelak
Akankah mereka menjadi orang yang berguna?
Atau justru menjadi sumber malapetaka bagi agama dan bangsa?

Karena selama ini, Sang Guru begitu mendamba-damba,
Akan lahir dari anak didiknya,
Generasi-generasi tangguh...
Generasi-generasi penerus...
Generasi-generasi pelurus...
PEMBELA AGAMA YANG MULIA

Sang Guru khawatir dengan kondisi negerinya
Karena banyak pemuda pemudi yang jauh dari agama
Dan....
Justru mereka tega menghina agama mulia
Dengan bebas membuka aurat selebar-lebarnya
Dan mengisi lembaran hidup mereka dengan
Menjadi durhaka pada orang tua
Mereka justru MENANTANGNYA!!

Sang Guru pun tanpa sengaja meneteskan air matanya
Karena takut jika semua itu menjadi nyata
Karena takut jika perjuangannya selama ini sia-sia
Karena takut kelak anak didiknya justru
MENJADI MUSUHNYA...
Karena berubah menjadi musuh-musuh agama
Oohh.................

Apakah Allah akan menerima setiap jerih payahnya?
Mengajar penuh keikhlasan hanya karena mengejar SurgaNya
Memimpikan bisa berdampingan bersama guru-guru yang mulia
Para Nabi dan Rasul yang mulia di Surga
Tidak peduli dengan gaji yang diterimanya
Karena yakin akan KEBERKAHAN DARI TUHANnya



Ia yakin...
Allah akan bersama guru-guru yang mengajarkan kebaikan...
Bahkan, penghuni langit dan bumipun mendo'akan dirinya...
Selama ia mengajarkan kebaikan kepada murid-muridnya
Begitulah yang dijanjikan Nabinya..

Ohh........
Kami sangat merindukan..
Kami sangat mendambakan..
Kami sangat mengharapkan..
Agar kelak diantara kalian
Ada yang membanggakan kami,
Karena akhlak kalian
Karena prestasi-prestasi kalian
Menjadi orang-orang yang mulia,
Dihadapan Allah dan dihadapan manusia

Semoga kelak,
Kita bisa berkumpul di surga...
Sebagaimana kita pernah berkumpul di dunia
Sebagaimana kita berkumpul di Aula sekolah tercinta
Tempat ini akan menjadi kenangan kita
Kenangan manis bersama Al Qur'an di aula sekolah
Ingatkah saat tiap iqro bersama?
Ingatkah saat dhuha dan dzuhur berjamaah?
Aula sekolah menjadi sahabat kita...
Biar ia menjadi saksi,...
Bahwa,..Kita pernah bersama
Di tempat inilah kita dibina




Kami senantiasa berdo'a...
Untuk murid-murid kami tercinta
Agar Allah selalu menjaga kalian
Di sana...

AAMIIN YAA RABBAL ' ALAMIN








Note : inspirasi puisi dari "Renungan seorang Guru"
































Tidak ada komentar:

Posting Komentar