Senin, 04 Desember 2017

Reuni Akbar Alumni 212..........(Sabtu, 2 Desember 2017)



Menjemput Cahaya di Langit


#goresanringanReuniAlumni212
#sekelumitkisahMonaskami
#kenangankuterulanglagi
#withsahabatsurgaInsyaAllah



" Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-NYA meskipun orang-orang kafir membencinya"
(Q.S Ash-Shaff : 8)




Kisah pun dimulai,..


Saat pertama kali mendengar akan diadakannya pertemuan kembali istilah kerennya reuni para mujahid/mujahidah yang tahun lalu di Monas tepatnya Jum'at, 2 Desember 2016 pernah menggemparkan dunia melalui suatu aksi damai yang fenomenal dengan sebutan Aksi Bela Islam Jilid III Super Damai atau yang familiar dengan sebutan "Aksi Bela Islam 212" dan mampu mengumpulkan jamaah lebih kurang 7 juta orang, hati ini menyimpan kegembiraan yang membuncah. Terngiang kembali kenangan tahun lalu bersama para sahabat surga jamaah masjid Al Hidayah (Insya Allah..aamiinn), bagaimana keberadaan kami di Monas waktu itu.....gelora jihad,keharuan, kesedihan, hati yang "tersentuh" terlebih saat lantunan dzikir dan Qunut Nazilah menerobos telinga kami dan menyentuh dengan manis hati ini sehingga air mata tak dapat terbendung lagi dan menetes perlahan............... (koq jadi haru lagi yach ngingetnya...)..


Saatnya pun tiba,...


Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan singkat, akhirnya kami semua yang berencana menghadiri kegiatan reuni 212 tersebut bersepakat akan berangkat pada hari Jum'at malam pukul 21.00. Karena ini reuni yang sifatnya napak tilas perjalanan dan perjuangan seperti tahun lalu, maka kami pun memutuskan pula untuk tetap menggunakan sarana transportasi kereta commuter line.


Jum'at tanggal 1 Desember 2017 bertepatan dengan hari libur keagamaan yakni Maulud Nabi Muhammad SAW, lebih kurang pukul sembilan malam, para sahabat jamaah masjid Al Hidayah sudah berkumpul di mesjid. Sayangnya, pada hari ini ada beberapa sahabat yang tidak bisa bergabung karena sesuatu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Setelah tidak ada lagi yang ditunggu, kira-kira pukul sembilan malam lewat lima belas menit kamipun segera berangkat menggunakan motor menuju stasiun Bekasi. Tidak seperti tahun lalu, sepanjang perjalanan ini kami sedikit sekali bertemu teman2 dari rombongan lain, hanya satu dua bus yang kami lihat dan beberapa motor saja yang kemungkinan punya tujuan sama. Hal ini mungkin saja karena tahun lalu kami berangkat ba'da Subuh sedangkan saat ini berangkat ba'da Isya (...... hehehehehe...jam sembilan malam khan ba'da Isya juga). Kami sengaja berangkat malam dengan harapan bisa mabit sekaligus qiyamul lail terlebih dahulu, dan yang terpenting adalah kami ingin merasakan dan menikmati ibadah sebagai salah satu jamaah yang tercatat di dalam sejarah sholat Subuh terbesar di Indonesia...(syukur2 di dunia)...


Sekitar pukul sepuluh malam kami tiba di stasiun Bekasi. Suasana di stasiun pun tidak terlalu ramai. Setelah mendapatkan tiket, kamipun bergegas menuju kereta tapi sebelumnya mengurangi cairan di tubuh dengan menuju ke toilet ....hehehehehe. Alhamdulillah, suasana di dalam kereta pun lumayan lengang, sehingga kami bisa memilih gerbong yang rada kosong penumpangnya biar bisa ngumpul semua satu rombongan. Nach, ..... mumpung rada sepi dimanfaatkanlah untuk sesi foto-foto dan canda serta senda gurau...(biar ada kenangannya).


Tidak terasa, lebih kurang pukul sepuluh malam lewat empat puluh menit kami tiba di stasiun Djuanda. Setelah turun dari kereta tujuan pertama adalah ..... toliet! Sambil menunggu teman2 yang ke toilet, kami mulai melihat mengamati adanya peningkatan yang rada signifikan dari para penumpang kereta khususnya kereta yang tiba dari arah Bogor. Alhamdulillah, mulai banyak yang berdatangan. Dari stasiun Djuanda langsung berjalan kaki menuju Istiqlal. Terbayang sudah saat nanti di Istiqlal bisa rehat ngelempengin kaki ama badan yang pengen istirahat. Namun,.... ternyata oh ternyata, pintu gerbang masih banyak yang ditutup. Ada juga beberapa jamaah yang mampu masuk ke dalam area mesjid, namun mesti berputar lebih jauh lagi untuk bisa ke dalam. Mungkin pihak masjid, karena pusat acaranya di Monas ya udah gembok aza...bereeesss... Dzolimnya negeriku, dimana kaum yang mayoritas beragama Islam tetapi mau ibadah sholat susahnya ....... astaghfirullah!!
Oh, iya... di Istiqlal kami bertemu sahabat alumni 212 dari daerah Mindanau...alhamdulillah, luar biasa semangatnya...takbir...!!!


Akhirnya, rombongan saya pun memutuskan untuk langsung menuju Monas dengan harapan setelah berada di dalam area Monas bisa gelar alas ataupun spanduk dan langsung ibadah plus istirahat. Dengan langkah santai, kami pun menuju ke Monas. Sepanjang perjalanan sangat lengang sementara waktu menunjukkan pukul sebelas malam lewat sepuluh menit...(koq tau aja seh jam segitu,...lha iya wong dicatat koq ...hehehehehehe). Sesampainya di Monas,.....ternyata oh ternyata lagi, pintu masuk Monaspun masih ditutup.  Waktu saat kami tiba di Monas kira-kira pukul dua belas malam lewat beberapa menit.  Nampak sudah banyak jamaah alumni 212 yang menunggu di situ.  Akhirnya kamipun menggelar spanduk untuk dijadikan alas serta beberapa alas lagi yang kami beli di tempat itu.  Menunggu pintu gerbang dibuka, kami istirahat sambil bincang2 tentang suasana negara dan kondisi Islam di negeri tercinta NKRI.......... beberapa ada yang tidur, juga ada ngopi sambil maenin hape...  Kamipun sempat kebagian roti dan minuman botol kangen water...(numpang iklan ...hehehehehe).  Subhanallah, selama kami menunggu gerbang dibuka tidak ada seekor nyamukpun yang mengganggu kami.  Heran juga padahal di sekitarnya banyak pohon besar.  Tentu tidak ada yang mustahil bagi Allah.  Wong, nyamuk diperintahkan Allah untuk membunuh Namrud aja nurut apalagi cuman sekedar menghindari manusia..... (hehehehe enteng itu mah, ngurangin kerjaan juga kata nyamuk).  Keheranan yang kedua adalah, selama keberangkatan kami sampai kami berada di Monas ini, cuaca sangat bersahabat padahal hampir sepekan sebelumnya hujan turun dengan deras bahkan diiringi petir dan angin yang cukup kencang.  Pukul setengah dua malam mulai nampak terlihat ratusan anggota polisi yang ditugaskan dilokasi sedang mendapat arahan.... Padahal umat islam klo buat aksi gak pernah bikin rusak cuman emank bikin heboh...tapi heboh positif kaya 212 tahun lalu..  Klo yang aksi gerombolan sebelah barulah boleh dijagain soale mereka dah terbukti provokatif dan selalu bikin rusuh tiap ngadain aksi...... (hehehehehehe, tau khan maksudnye..)

Tepat pukul dua pagi lewat sepuluh menit, pintu gerbangpun dibuka, namun sangat disayangkan pintu yang dibuka hanyalah gerbang yang kecil sehingga cukup berdesak-desakan meskipun tertib.  Masya Allah, untuk beribadah saja sangat susah sekali, padahal di negara yang notabene adalah mayoritas beragama Islam tapi untuk beribadah sholat saja seperti di negara-negara yang muslimnya ditindas layaknya Myanmar, Palestina, Suriah..... ironinya negeriku....
Alhamdulillah, berbekal pengalaman 212 tahun lalu, kami semua yang berbaris masuk ke dalam area Monas dengan tertib.  Klo gak tertib dan rusuh yang senang pertama kali pastinya adalah ..... (klo disebut nama ntar kena UU ITE), bisa jadi komoditas berita tujuh hari tujuh malam kaya acara tahlilan.... hehehehehe.

Di Monas kami mengambil posisi dekat tugu Monasnya, meskipun bisa saja kami mengambil lokasi dekat panggung utama.  Namun, pertimbangan klo pengen pipis dan ada keperluan lain tentu sangat sulit melewati jamaah, maka kami mengambil lokasi yang sedang2 saja artinya tidak jauh dari panggung juga tidak dekat.  Cuaca sangat bersahabat bahkan anginpun berhembus dengan semilir membelai tubuh kami ditambah bulan yang yang bercahaya menerangi kami seakan dirinya tersenyum dan menyapa kepada kami semua,  “selamat datang para pembela Agama Allah, semoga kalian kelak bisa menatap wajah sang penciptaku.......”  ehmmm so sweet......aamiin yra.
Setelah melakukan qiyamul lail masing2, kamipun melaksanakan sholat hajat berjamaah kemudian dilanjutkan sholat subuh berjamaah.   Alhamdulillah, itulah sholat Subuh ... (Insya Allah) yang dilaksanakan di suatu tempat yang luas dan dengan jamaah terbanyak yang mewakili beberapa daerah2 di Indonesia...bisa jadi di dunia.

Selanjutnya setelah sholat Subuh dilanjutkan dengan lantunan ayat2 al qur’an.  Beberapa tokoh dan ulama turut hadir dan memberikan sambutan ataupun orasi yang membakar semangat para jamaah yang beberapa mulai letih dan mengantuk karena sudah sejak malam sebelumnya berada di area istiqlal ataupun Monas.  Pidato atau sambutan pembuka disampaikan langsung oleeh gubernur DKI Jakarta bapak Anies Baswedan.  Tokoh dan ulama yang hadir diantaranya, Bapak Amien Rais, Menantunya Habieb Riziek (lupa namanya), Wakil Ketua DPR Fadly Zon, Gus Nuril, Al Khathah,  ustad Felix Siaw, Fahri Hamzah, juga seniman seperti Opiek, Ahmad Dhani dan lainnya.   Orasi diakhiri oleh sang motivator fenomenal ustad Bahtiar Nasir alias UBN....

Para jamaah mulai membludak dan memenuhi area dalam Monas saat pukul setengah delapan pagi.  Mereka berdatangan disertai keluarganya.... so artinya aksi ini adalah aksi yang sudah menjadi mindset bahwa akan berjalan damai.  Bahkan kami sempat berbincang2 dengan jamaah dari sulawesi.   Artinya aksi ini bukan sekedar aksi ingin nasi bungkus seperti yang kubu sebelah koar-koarkan...... hehehehehe (gpp yach politik dikit.....). 
Keheranan yang ketiga, saat pukul setengah enam pagi sampai dengan pukul delapan pagi sinar mentari menemani kami, sehingga yang tadinya para jamaah yang menginap di Monas rada terkantuk-kantuk agak berontak matanya.....hehehhehe.  Tapi, setelah pukul delapan pagi panasnya mentari mulai tertutup gumpalan awan sehingga sinar yang sampai di tubuh kami sinar yang menghangatkan badan disertai hembusan angin yang menerpa dengan damai di badan ini..  Padahal jika saja sinar itu terus bersinar tanpa terhadang awan tentu badan agak berkeringat berlebihan dan membuat tambah letih.   Subhanallah, Allah meridhoi kegiatan kami ini sehingga cuaca, angin, dan sinar mentari mendukung kami semua sesuai perintah sang Penciptanya.....

Sekitar pukul sepuluh pagi lewat dua puluh menit kami bergegas meninggalkan area Monas, meskipun acaranya baru berakhir pukul sebelas siang sesuai agendanya.  Namun, untuk meninggalkan area Monas perlu perjuangan ekstra karena ternyata banyak juga jamaah yang berpikiran sama ..... (keluar duluan sebelum acara kelar).    Setelah berada di luar area Monas kami dan beberapa jamaah lainnya sebagian menuju Masjid Istiqlal untuk rehat sekaligus menunggu sholat Dzuhur sebagian lagi langsung pulang ke rumah masing2 (mungkin..).
Ba’da sholat Dzuhur kamipun langsung bergegas menuju stasiun Djuanda untuk pulang kembali ke Tambun, bekasi.  Di stasiun Djuanda inilah saat perjalanan pulang, saya bertemu kawan seperjuangan dari SD Al Hanief yaitu ms. Atiek dan suaminya.....(ngobrol sejenak). 

Singkat kata, pukul setengah empat kurang kami tiba di Bekasi dan langsung sholat Asar di mesjid dekat stasiun radio Dakta...
Pukul setengah lima sampailah saya dan para sahabat surga al Hidayah...(insya Allah) di perumahan tercinta Griya Asri 2 Tambun....


Demikianlah sekelumit kisah dari perjalanan Reuni Akbar 212....

Kalau sebelumnya pada aksi 212 kami menginginkan pemimpin Muslim yang mencintai Allah dan amanah pada jabatannya dan keinginan kami di penuhi oleh Allah SWT dengan terpilihnya Gubernur DKI Jakarta yang pro Islam ....(mulai nampak dari kebijakannya).  Dan, kini pun berharap dan berdo’a unuk skala yang lebih luas bukan saja Jakarta tapi Indonesia, artinya Indonesia kelak akan memiliki presiden yang bukan saja Muslim tapi juga mencintai Al qur’an dan Al Hadist seta amanah pada jabatannya..... 

Ingat para sahabatku, kekuatan do’a jangan sesekali diremehkan....
Sudah terbukti di pilkada Jakarta.....

UNTUK INDONESIA KELAK PRESIDEN YANG MENCINTAI ISLAM......


Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka (dikatakan kepada mereka), “ pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.  Demikian itulah kemenangan yang agung”.
Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diantara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu.  Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab”.

(Q.S Al Hadid  : 12-13)

   
#gakbisanulisbanyak
#semogagakbetebacanya






























Tidak ada komentar:

Posting Komentar