REWARD vs PUNISHMENT
"Pokoknya nanti kalau kakak mendapat nilai bagus di rapor, mama akan
kasih hadiah yang menarik".
Mungkin kalimat tersebut banyak diucapkan orang tua kepada anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan baik di sekolah formal seperti SD, SMP, maupun SMA ataupun sekolah non formal seperti KB atau TK.
Atau kalimat seperti "Kalau kamu masih suka memukul teman, Ibu guru akan memberikan larangan untuk kamu bermain saat jam istirahat".
Mungkin kalimat tersebut banyak diucapkan orang tua kepada anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan baik di sekolah formal seperti SD, SMP, maupun SMA ataupun sekolah non formal seperti KB atau TK.
Atau kalimat seperti "Kalau kamu masih suka memukul teman, Ibu guru akan memberikan larangan untuk kamu bermain saat jam istirahat".
Kalimat yang pertama merupakan wujud dari pemberian
hadiah atau reward, sedangkan kalimat yang kedua merupakan wujud dari
suatu hukuman atau punishment.
Reward ataupun Punishment merupakan suatu akibat dari
perjalanan perilaku individu-individu dari waktu ke waktu. Bagi para
orang tua tentu terhadap anak-anaknya, sedangkan bagi ibu/bapak guru tentu
terhadap murid-muridnya. Pemberian hadiah ataupun hukuman dalam dunia
pendidikan khususnya pendidikan anak, menjadi kekhawatiran sebagian besar orang
tua maupun guru. Karena bila diterapkan tanpa konsep yang jelas, akhirnya
justru mengenyam hasil yang buruk dan dapat berakibat fatal dengan semakin
memburuknya perilaku anak.
Supaya pemberian hadiah atau hukuman bisa menjadi
metode yang efektif anak agar mau berperilaku baik, perlu diperhatikan syarat-syarat
pemberiannya, cara pemberiannya, hingga dosis atau ukuran yang tepat untuk
masing-masing anak. Jika keliru melakukannya, hadiah dan hukuman justru
berubah fungsi dari obat menjadi racun yang menumbuhkan kepribadian buruk anak.
Allah SWT telah memberikan standar kepada
manusia mengenai kesetimbangan dalam memberikan hadiah atau hukuman.
Seperti kita ketahui, Allah menjanjikan pahala bila manusia berbuat baik
meskipun baru sebatas niat. Dan Allah juga melipat gandakan
kebaikan manusia dengan pahala yang berlipat-lipat jika sudah dikerjakan.
Sedangkan untuk sebuah dosa, Allah baru memberikannya jika manusia telah
melakukan suatu perbuatannya, bila hanya sebatas niat tidaklah masuk dalam
catatan dosa. Jika terlaksanapun Allah masih mengampuni dosa kita bila
kita segera beristigfar.
Berdasarkan pedoman di atas jelaslah bahwa Allah SWT
telah menyiratkan kepada kita hendaklah kita mempermudah pemberian hadiah
ataupun penghargaan kepada anak dan mempersulit memberikan hukuman.
Artinya pemberian hadiah lebih didahulukan dan diutamakan sedangkan pemberian
hukuman diakhirkan dan diminimalkan.
Prinsip-prinsip pemberian hadiah(reward) :
- Penilaian didasarkan pada "perilaku", bukan "pelaku". Perilaku bisa baik dan bisa buruk, tapi pelaku senantiasa tetap baik.
- Harus ada batasnya.
- Paling baik dalam bentuk perhatian. Dalam sebuah testimoni diceritakan seorang ibu yang mempunyai putri di kelas V SD yang selalu mengingat masa indahnya dulu. Sang putri bercerita kepada ibunya kalau waktu SD dahulu gurunya selalu menyelipkan pesan khusus yang ditulis tangan di atas kertas merah muda dan dihiasi corak warna spidol. Selembar kertas sederhana tersebut menjadi menarik karena berisi pujian kepada siswanya berupa kesungguhan belajar, mengenai pergaulana taupun perilaku positif kami.
- Berdasarkan pada proses bukan hasil.
- Dimusyawarahkan kesepakatannya.
Prinsip-prinsip
pemberian hukuman (punishment) :
- Ada kesetimbangan antara hukuman dengan hadiah.
- Maksimalkan kepercayaan dahulu, baru berikan hukuman.
- Standarkan pemberian pada "perilaku".
- Berikan hukuman tanpa melibatkan emosi. "Pada saat anak sedang berbuat salah dan harus menerima hukuman, emosinya berada dalam keadaan labil. Mereka hampir kehilangan rasa aman dan khawatir kehilangan kasih sayang orang tua maupun guru. Apabila guru memberikan hukuman dengan disertai emosi, justru akan menjadi pembenaran terhadap ketakutan mereka, sehingga menjatuhkan mental anak".
- Sudah terjadi kesepakatan sebelumnya dalam hal pemberian hukuman
- Berikan hukuman secara bertahap dari yang paling ringan
- Spesifik dalam menjelaskan tingkat kesalahan
- Fleksibilitas, sesuai kondisi anak
Kita sebagai pendidik (guru) ataupun sebagai orang
tua, masing-masing mempunyai peran tersendiri dalam mengembangkan
perilaku-perilaku positif anak-anak kita. Kebanyakan para guru maupun
orang tua kerap menggunakan teknik pemberian hadiah dan hukuman kepada
anak-anak didiknya ataupun anak-anaknya di rumah sebagai usaha untuk membina
perilaku mereka.
Pemberian pujian atas perilaku terhadap mereka secara langsung saat mereka melakukan suatu perbuatan yang baik, jauh lebih bermanfaat daripada sekedar menjanjikan hadiah atas perbuatan baik mereka namun tertunda penerimaannya. Ada faktor psikologis yang melanda mereka saat sebuah pujian dilontarkan akibat perilaku positif yang sudah dilakukan. Sebagai contoh, kita sebagai guru saat melihat sang murid merapikan sepatu maupun sendal teman-temannya yang tergeletak tanpa beraturan kemudian disusun serta diletakkan di rak sepatu, secepatnya langsung kita apresiasi dengan kata-kata yang memuji sambil sesekali menepuk bahunya sebagai tanda bahwa kita benar-benar bangga dengan perbuatannya. Anak tentu akan merespon dengan bahagia dan secara otomatis dia akan mempertahankan perilakunya tersebut minimal meletakkan sepatu atau sendalnya dengan rapi. Apalagi bila sang guru mengumumkan di depan kelas sang anak, tentu akan lebih baik lagi.
Yang paling sulit bagi kita selaku orang tua atau guru adalah selalu mengganggap bahwa perilaku baik mereka semisal meletakkan sepatu atau sendal dengan rapi adalah hal yang biasa atau hal yang memang seharusnya mereka lakukan. Sedangkan hal yang lain misalnya saat sang anak menyembunyikan sepatu milik temannya langsung menjadi bahan pembicaraan bahkan sampai mempersiapkan hukuman buat sang anak yang menyembunyikannya. Padahal dua kejadian di atas kerap terjadi pada anak-anak kita namun kita lebih sibuk memperhatikan perilaku buruknya dan menyiapkan punishment dibandingkan mencermati setiap perilaku baiknya dan memberikan apresiasi.
Pada dasarnya setiap orang senang dipuji dan diberi apresiasi tidak terkecuali kita sebagai orang dewasa, apalagi anak-anak kita. Karena itu mulai kini sibukkanlah diri kita dengan memperhatikan segala perilaku baik anak-anak kita diiringi dengan apresiasi berupa pujian atau reward.
Semoga tulisan di atas bermanfaat buat pengembangan perilaku
putra-putri kita sebagai generasi penerus bangsa dan generasi pelurus
agama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar