Senin, 03 Desember 2018

Menanti Kemenangan Yang Hakiki & Gemilang...."Reuni Akbar Mujahid 212"

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..


Bela Tauhid demi Kejayaan NKRI ......


Membela tauhid, NKRI, dan Pancasila dengan ghiroh Islam
Oleh para mujahid yang mencintai Tuhannya
Namun perjuangan belumlah usai
Akan selalu terhampar tantangan dan tentangan
Sampai akhirnya tibalah kemenangan seperti yang tercantum dalam Al qur'an




Kami ibarat sebuah bola karet
yang apabila kalian tekan akan memantul memberikan perlawanan
semakin kalian keras menekan
pantulan kami akan semakin membubung tinggi
dan mampu balik menerjang dengan dahsyat

kami ibarat air yang mengalir
yang apabila kalian hambat
mampu mencari celah meskipun sempit dan sulit
untuk tetap mengalir
semakin kalian semangat menghambat
kekuatan kami semakin mengkristal dan menggumpal
dan mampu memporak-porandakan kezholiman dan ketidakadilan di negeri ini
laksana tsunami

....

DEJAVU...


Tidak terasa sudah tahun kedua atau kedua kalinya kami akan mengikuti acara Reuni Akbar Alumni 212.  Jika mengingat sejarah terjadinya aksi bela islam pertama kali pada Desember tahun 2016, hati ini selalu bergetar.....Masih terngiang-ngiang suasana saat itu yang penuh dengan kerumunan umat Islam yang mampu dipersatukan oleh surat Al Maidah 51...sekitar 7 juta manusia berkumpul di Monas dan jalan-jalan protokol sekitarnya.  Masih teringat juga, bagaimana hati ini "tersentil" dengan manisnya saat Qunut Nazilah dibacakan pada sholat Jumat, 2 Desember 2016.  Tidak terasa saat itu air mata ini mengalir dengan restu Tuhannya tanpa bisa dibendung......

dan kini,...

Suasana itu akan tiba kembali.  Menjelang acara Reuni Akbar Mujahid 212 kami jamaah masjid Al Hidayah juga berencana akan menghadiri kembali agenda tersebut.  Pada mulanya kami sepakat akan berangkat menuju Monas pada Ahad pagi tanggal 2 Desember 2018.  Namun, mencermati perkembangan medsos yang terus kami update sepertinya tahun ini akan lebih ramai dibanding tahun 2017 sebelumnya saat reuni akbar 212 yang pertama kali.  Ada beberapa alasan yang bisa kami simpulkan diantaranya banyaknya hambatan2 atau konspirasi2 dari pemerintah untuk meggemboskan acara ini.  Mulai dari pembatalan beberapa armada transportasi yang sudah disewa, juga adanya beberapa ancaman2.  Alasan yang paling mendekati kebenaran adalah mulainya para mujahid-mujahid dari daerah yang berjalan kaki menuju Monas.  Ini semakin membangkitkan ghiroh untuk turut bergabung di acara  reuni tersebut.  Tidak kalah pentingnya adalah peristiwa pembakaran kalimat tauhid oleh orang2 yang tidak bertanggungjawab yang dilindungi sang penguasa.

Jika tahun 2016 peristiwa Al Maidah membangkitkan ghiroh Islam pemeluknya.  Insya Allah peristiwa pembakaran bendera bertuliskan lafaz tauhid juga mampu membangkitkan keimanan para mujahid di negeri tercinta NKRI ini..



Akhirnya setelah melalui pertimbangan dan beberapa obrolan serta pertemuan kecil diputuskanlah bahwa kami akan berangkat bada sholat Isya sekitar jam sembilan malam...

Time is coming,
Hari yang dinanti akhirnya tiba.  Kami jamaah masjid Al Hidayah Blok C Tambun Selatan dengan personil lebih kurang 14 orang sudah siap untuk menuju Monas.  Setelah sholat Isya berjamaah bersama, lebih kurang jam 9an malam beberapa dari kami sudah standby di masjid.  Setelah kami semuanya lengkap berkumpul maka bergegaslah untuk berangkat namun sebelumnya berfoto ria terlebih dahulu sebagai dokumentasi perjalanan bersejarah bagi kami semua.

Sabtu, 1 Desember 2018 sekitar pukul setengah sepuluh malam kami membelah malam menatap bintang menuju Monas dengan ghiroh yang sulit untuk diungkapkan.  Mengingat malam ahad wilayah Tambun sudah terkontaminasi dengan kemacetan maka kami mengambil jalan lain yang tidak umum dilewati kendaraan.  Meskipun jalanannya tidak sebaik dan semulus yang biasanya namun kami tetap menikmatinya dengan canda dan ceria.

Lebih kurang pukul setengah sebelas malam kami tiba di stasiun Bekasi.  Saat itu masih belum terjadi penumpukan penumpang terutama yang akan menuju Monas.  Alhamdulillah,..  kamipun sempat berfoto ria kembali untuk kenangan yang bersejarah.  Saat tiba di dalam kereta barulah nampak tanda-tanda keramaian.  Ternyata, di gerbong sudah lumayan banyak para peserta yang juga akan mengikuti Reuni Akbar Mujahid 212 di Monas.  Terlihat dari pakaian dan atribut-stribut yang dibawa oleh mereka.  Mumpung belum terlalu membludak kami mengambil beberapa gambar.  Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, perjalanan kali inipun kami isi dengan senda gurau dan keceriaan untuk menghilangkan rasa kantuk.

Tidak terasa kamipun tiba di Stasiun Djuanda.  Waktu saat itu menunjukkan pukul sebelas malam lewat sepuluh menit.  Di stasiun Djuanda sudah mulai terasa kepadatan penumpang yang hampir sembilan puluh persen merupakan para peserta Reuni Akbar Mujahid 212.  Benarlah apa yang kami pantau melalui medsos.  Bahwa kemungkinan besar para peserta aksi kali ini akan melebihi aksi-aksi 212 sebelumnya.  Sepanjang perjalanan dari stasiun Djuanda menuju Monaspun kepadatan manusia sudah terlihat, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam kurang.  Para pedagang makanan ataupun barang-barang berkaitan dengan aksi ini sudah bersiap-siap.  Kira-kira pukul dua belas malam kurang akhirnya kami berhasil memasuki area lapangan Monas.....langsung dehhh foto2.....  Awalnya kami ingin mengambil posisi tempat di depan panggung utama, tapi rupanya sudah penuh oleh para peserta.  Akhirnya kamipun mundur beberapa puluh meter mencari posisi yang masih strategis.  Namun, ada juga dari kami yang tetap mengambil posisi di depan panggung utama.

Kami segera menggelar alas dan istirahat sejenak.  Alhamdulillah...selama kami berada di Monas tidak seekor nyamukpun menggigit kulit kami..Subhanallah.  Selain itu, suasana maupun cuaca juga sangat bersahabat dengan kami.  Meskipun kami sudah antisipasi bilamana hujan saat kami tiba di Monas.  Acara baru akan dimulai pukul dua pagi.  Waktu menunjukkan pukul dua pagi lewat sepuluh menit, pengeras suara di panggung utama sudah memulai membuka acara.  Sholat tahajjud yang saya pribadi dan teman-teman ikuti dini hari itu mungkin merupakan sholat tahajjud berjamaah yang paling banyak jumlah makmumnya di atas bumi Allah ini...Wallahualam bishowab..
Awalnya sholat tahajjud ini direncanakan delapan rakaat lalu ditutup witir tiga rakaat.  Namun, baru berlangsung empat rakaat ada informasi perubahan bahwa sholat tahajjud akan langsung ditutup witir.  Perubahan ini dimungkinkan karena meskipun baru empat rakaat tapi waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi lewat, dikhawatirkan bila tetap delapan rakaat maka waktu subuhnya akan terlampaui.  Hal ini terjadi karena sholat empat rakaatnya tadi saja menggunakan waktu selama hampir setengah jam.  Nah,.... saat sholat witir sepertinya Imamnya diganti karena saya mendengar suaranya agak berbeda.  Pada saat witir rakaat terakhir dibacakanlah qunut naziilah yang membuat suasana Monas semakin syahdu serta suasana hati yang sulit untuk diceritakan.  Saat qunut nazilah dibacakan dengan suara yang menggetarkan hati, jelas terdengar jelas oleh telinga kami suara isak tangis para jamaah termasuk sahabat2 al hidayah.  Saya pribadipun tak mampu membendung perasaan dan gejolak hati ini.  Air mata ini mengalir dengan perintah Tuhannya menyusuri pipi bahkan sampai ke mulut.  Entah bagaimana air mata ini bisa tumpah sederas itu.....jujur bahkan kali ini lebih deras dibandingkan saat qunut nazilah jumat 2 Desember 2016 yang lalu.  Ya Allah..... semoga Engkau berikan keadilan dan keberkahan di negara NKRI tercinta ini dengan memberikan kami pemimpin yang takut kepada MU Ya Allah....

Usai sholat tahajjud langsung disambung sholat Subuh. Melihat suasana Monas saat subuh kami berkeyakinan bahwa aksi kali ini akan melebihi sebelumnya.  Karena sejak subuh pun Monas sudah penuh sesak para jamaah. Benar saja...... sekitar pukul setengah delapan MC acara yakni kang Miing dan Babe Haikal mengumumkan bahwa peserta aksi Reuni Akbar Mujahid 212 sudah tidak bisa memasuki kawasan Monas lagi.  Para peserta meluber sampai di luar perkiraan.  Terlihat melalui layar raksasa yang terpasang di belakang panggung, nampak lautan manusia didominasi warna putih menyemut memenuhi jalan-jalan protokol sepanjang Thamrin- Sudirman bahkan lebih luas lagi.  Diperkirakan total peserta ada di kisaran angka 8 - 10 juta orang......subhanllah..


Beberapa tokoh nampak hadir diantaranya Gubernur DKI Bapak Anies Baswedan, lalu Bapak Amien rais, Ketua DPR Zulkifli Hasan, Fadly Zon, Ust. Tengku Zulkarnaen dan tokoh2 lainnya.  Yang paling fenomenal adalah sambutan dari Capres Bapak Prabowo Subianto yang mendapatkan apresiasi paling meriah dari para peserta aksi.

Kira-kira pukul sepuluh pagi kami sudah mulai beranjak meninggalkan tempat untuk segera keluar dari Monas meskipun acaranya belum selesai seluruhnya.  Kami belajar dari pengalaman sebelumnya yang sulit keluar dari Monas jika menunggu acara selesai.  Tapi, perhitungan kami meleset.  Nyatanya, perlu perjuangan yang bahkan lebih ekstra dibandingkan saat tahun 2016 lalu.  Rombongan kamipun terpencar menjadi empat kelompok kecil karena sangat padat dan sesaknya lautan manusia yang ingin keluar dari Monas.  Bayangkan hanya dari dalam Monas menuju stasiun Djuanda memerlukan waktu 1,5 jam...!! bahkan ada diantara rombongan kami yang sempat istirahat khusus karena kondisi badannya melemah akibat cuaca dan kekurangan air  (karena nahan minum supaya gak pengen ke toilet..).  Itu juga karena kawan kami ini masih proses pemulihan akibat terkena sakit sebelumnya.  Namun, karena ghiroh Islamnya dia tetap berangkat menuju Monas....Takbir........!!!

Seperti tahun2 sebelumnya meskipun padat dan sesak, tapi selalu ada celah untuk bisa dilewati anak-anak dan para wanita....luar biasa ....

Apalagi saat di stasiun, sampai-sampai ada pembatasan untuk menuju peron karena saking padatnya.  Selama proses pergiliran itu kami kumandangkan sholawat, takbir, ataupun kalimat2 thoyibah untuk menebalkan semangat dan mengikis rasa letih......

Singkat cerita, akhirnya saya dan rombongan kecil (soale pada terpisah) tiba di Tambun kembali sekitar pukul empat sore....

Alhamdulillah.....
Akhirnya kami semua kembali ke rumah masing-masing dengan waktu yang berbeda, cerita berbeda, pengalaman berbeda namun satu semangat MEMBELA TAUHID dan NKRI.......

Jangan kalian pertanyakan alasan kami mengikuti aksi ini
Sekiranya kalian sekali saja mengikuti kami
Berada diantara jutaan manusia
yang mengagungkan kebesaran Allah swt.

Maka, kami tidak perlu menjelaskannya lagi
Karena kalian pasti akan merasakan apa yang kami rasa
Karena ghiroh kepada Tuhan tidak selalu
mudah dan bisa diucapkan

Ada sesuatu yang sulit diungkapkan 
Karena itu berkaitan dengan iman
Kami memang belum baik dan belum sholeh
Tapi kami setidaknya sudah berusaha membela agama kami
Biarlah Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Adil
Dialah yang kelak memutuskan
Akan ada dimana kami kelak......


Semoga kita semua ditempatkan disisi yang mulia 
Sisi yang penuh rahmat dan ampunan Illahi...

dan semoga tahun 2019 tetap ada Acara Reuni Akbar 212 dengan presiden yang selalu mencintai agama kami dan selalu mencintai ulama-ulama kami.....

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin

see u next time....


silakan nikmati dokumentasinya





















































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar