Jumat, 17 Mei 2019

Guru Story Book

Alhamdulillah,...

dah lama banget rasanya gak nulis di blog pribadi ini.  Kesempatan dan pemikiran lebih banyak dituangkan ataupun digoreskan di blog  yayasan Al Bukhori.  Maklumlah, Al Bukhori masih perlu syiar dan promosi terus agar semakin berkibar kiprahnya dan makin bermanfaat buat lingkungan. 

Kalau sudah mendapat kepercayaan yang luar biasa dari lingkungan, maka jadi semakin ringanlah amanah kami selaku pengurus yayasan.  Perlu diketahui bahwa Al Bukhori Tambun adalah lembaga pendidikan atau sekolah yang masih sangat butuh bantuan atau partisipasi dari donatur ataupun dermawan guna menunjang biaya operasionalnya.  Lembaga pendidikan TPQ Al Bukhori ini memang sejak awal keberadaannya untuk memberikan manfaat atau kemaslahatan kepada warga Blok C RW 032 Perumahan Griya Asri 2 Tambun Selatan khususnya serta warga perumahan2 di sekitarnya.   Karena itu biaya yang dikenakan kepada seluruh santri baik KB/TKQ atau TPQ sangatlah terjangkau atau bahkan bisa dikatakan sangat murah bila dibandingkan dengan sekolah2 sejenis di lingkungan Griya Asri 2 dan luar Griya Asri.  Selain itu juga, untuk para santri yang dhuafa ataupun yatim diberi keringanan biaya sampai dengan pembebasan biaya selama menempuh pendidikan di Al Bukhori.   Karena bagi kami, Pengurus Yayasan dan juga seluruh ustadzah pengajar adalah bagaimana anak2 di lingkungan dapat mempelajari Al Qur'an meskipun kondisi keuangannya dalam keadaan sulit.  Allah lah tempat bergantung kami, dan tentu saja kami yakin bahwa Allah SWT akan memberikan jalan kepada kami selama kami amanah.  Mustahil Allah tidak memberikan jalan kepada orang2 yang berjuang di jalan NYA....

Demikian sekilas saja tentang Al Bukhori...lebih lengkapnya silakan berselancar di albukhoriGA2tambun.blogspot.com


Kali ini aku mau tulis tentang karyaku sendiri.
Alhamdulillah, belum lama ini aku mencoba untuk mengirimkan naskah ke Buku Guru Story.  Kebetulan dalam rangka memperingati hari Pendidikan 2 Mei 2019 ini, ada penerbit dari Bandung yang menggagas membuat buku yang berisi tulisan para guru se Indonesia.  Maksudnya adalah agar para guru mampu memberi inspirasi kepada dunia pendidikan untuk menjadi lebih baik di masa mendatang.

Puji syukur kehadirat Allah SWT.  aku termasuk yang lolos sebagai penulis nasional tersebut.  Insya Allah bukunya akan terbit sekitar bulan Agustus 2019 mendatang.

mau tau aku nulis apa...?

ini dia tulisannya......

Kebahagiaan Itu Kita Yang Menciptakan

Perkenalkan, namaku Imam Santoso.  Hampir tujuh belas tahun aku mengabdikan diri sebagai seorang guru ataupun pendidik di suatu Sekolah Dasar yang bernama Al Hanief yang terletak di Kelurahan Sepanjang Jaya Kecamatan Rawa Lumbu Kota Bekasi.  Yayasan Al Hanief Moeliza merupakan yayasan yang mengelola sekolah Al Hanief mulai tingkat Kelompok Bermain hingga Sekolah Dasar.  SD nya mulai beroperasional sejak tahun pelajaran 2001/2002.
Tepat bulan September 2002 yang lalu atau pada tahun pelajaran 2002/2003, aku diterima menjadi seorang guru di SD Al  Hanief.  Waktu itu SD nya masih bergabung atau satu lokasi dengan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak di Perumahan Kemang Pratama Bekasi.  Sebelum aku diterima di SD Al Hanief, aku masih mengajar di suatu lembaga pendidikan kursus aritmatika (Sempoa) yang saat itu pembelajaran menggunakan alat hitung sempoa sangat booming.  Pertama diterima di sekolah Al Hanief aku ditempatkan menjadi wali kelas dua, waktu itu memang hanya ada dua jenjang kelas saja yakni kelas 1 sebanyak dua kelas (masing-masing 20 murid) dan kelas 2 sebanyak satu kelas (sebanyak 10 murid).  .  Masih teringat proses seleksi yang aku jalani saat itu.  Mulai dari seleksi berkas lamaran, kemudian tes potensi umum, selanjutnya psikotes, tes baca al qur’an, microteaching dan terakhir wawancara dengan ketua Yayasan Al Hanief Moeliza  selaku pengelola SD Al Hanief.  Konsultan yang menyeleksi saya waktu itu adalah dari Gemilang Mutaffanin lembaga konsultan yang berasal dari Bandung Jawa Barat.  Alhamdulillah, setelah melewati beberapa tahapan seleksi, saya bersama tiga teman lainnya akhirnya resmi menjadi pengajar sekaligus pendidik di Sekolah Dasar Al Hanief.  Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah murid semakin bertambah sehingga ruangan kelas sudah tidak mencukupi.  Sebenarnya pihak yayasan ingin mengembangkan gedung sekolah termasuk sarana prasarananya.  Namun, dengan luas tanah yang terbatas akhirnya yayasan membeli tanah di samping Yonif 202 Tajimalela, Rawa Panjang.  Dan sejak tahun pelajaran 2004/2005 SD Al Hanief menempati gedung sekolah baru.  Total luas area gedung Al Hanief yang baru adalah 6.280 meter persegi.
Sekolah tempat saya mengajar termasuk  salah satu sekolah yang “marketnya” adalah untuk kalangan menengah ke atas. Untuk pembiayaannya selevel dengan sekolah-sekolah ternama seperti Al Azhar, Al Izhar, ataupun lainnya.  Yayasan pun memiliki komitmen untuk membatasi jumlah murid perkelas maksimal hanya 24 anak.  Saya menjadi wali kelas 2 saat itu, jumlah muridnya berjumlah 10 orang.  Maklum, untuk sekolah yang baru muncul sangat tidak mudah untuk merekrut murid.  Tentu banyak pertimbangan-pertimbangan para orang tua calon murid sebelum berani memastikan dan memutuskan anak-anaknya untuk dididik di Al Hanief.
Tahun pertama memulai pengabdian sebagai seorang guru, tentu masih banyak yang perlu untuk dipelajari, baik berkaitan dengan anak didik ataupun rekan guru lainnya. Beberapa hal yang menarik berkaitan dengan sistem pembelajaran di sekolah Al Hanief diantaranya adalah adanya kegiatan sholat dhuha setiap pagi sebelum aktivitas pembelajaran reguler dan sholat Dzuhur berjamaah sebelum pulang sekolah.  Pada tahun-tahun itu masih sangat sedikit sekolah-sekolah baik swasta maupun negeri yang menjadwalkan kegiatan sholat dhuha sebagai bagian dari pembelajaran reguler setiap harinya.  Juga adanya program education fieldtrip yang saat itu masih belum banyak dimiliki oleh sekolah-sekolah lainnya. Rutinitas sholat dhuha yang kami lakukan bersama murid-murid ternyata memiliki dampak positif yang nyata dan signifikan terhadap perkembangan perilaku maupun akademis murid-murid kami.
Beberapa dampak positif yang ditimbulkan berkat kegiatan sholat dhuha ataupun Dzuhur berjamaah diantaranya :

  • ·         Timbulnya keakraban dan rasa solidaritas atau empati terhadap murid lainnya terutama pada beberapa anak yang teridentifikasi “kebutuhan khusus”.
  • ·         Mengenal dan memahami perilaku2 positif sebagai acuan kehidupan sehari-hari ( sebelum dhuha biasanya ada tausiyah dari guru terlebih dahulu).
  • ·         Menjadikan sholat dhuha menjadi kebiasaan yang sudah melekat pada diri murid2.
  • ·         Menanamkan ke para murid bahwa Allah swt pemilik ilmu yang ada di alam semesta ini, karena itu sebelum kita belajar kita harus puja dan puji terlebih dahulu sang Pemilik Ilmu tersebut melalui sholat dhuha.

Aktivitas sehari-hari  saya di sekolah diawali dengan menyambut murid-murid tercinta di gerbang masuk sekolah.  Biasanya kami yang mendapat tugas ini sudah siap sejak pukul 06.30 wib.  Dengan wajah ramah dan penuh senyuman kami menyambut anak-anak seraya menyapanya dan sesekali mengajak berbicara bilamana ada murid yang datang tidak dalam keadaan ceria.  Biasanya kegiatan penyambutan ini berlangsung hingga pukul 07.15 wib.  Setelah itu anak-anak bersiap menuju aula untuk melaksanakan kegiatan ikrar dan sholat dhuha.  Namun, biasanya sebelum kegiatan ini dimulai mereka melantunkan asmaul husna dan beberapa pujian kepada Allah serta bershalawat.  Kegiatan ini dibimbing oleh dua orang guru yang bertugas dan berlangsung sampai pukul 08.00 wib.  Selanjutnya anak-anak  masuk ke kelas untuk pembelajaran reguler sampai pukul 14.00 wib setelah diselingi waktu istirahat dan sholat dzuhur berjamaah.
Sungguh, bagi diriku selama mengajar dan mendidik anak-anak murid di SD Al Hanief banyak pembelajaran-pembelajaran ataupun pengalaman-pengalaman yang aku peroleh. Bagaimana aku yang dahulu sebelum mengajar di Al Hanief bisa dibilang sangat jarang sekali melakukan sholat dhuha, tapi alhamdulillah sejak menjadi guru di Al Hanief kebiasaan sholat dhuha menjadi rutinitas.  Dan saya merasakan perubahan dalam jiwa dan kehidupan menjadi lebih baik.
Mendidik, mengajar, dan membimbing anak-anak di usia sekolah dasar memang penuh pengalaman yang luar biasa.  Bagaimana saya mesti bersikap menghadapi permasalahan-permasalahan yang dialami mereka.  Mulai dari datang ke sekolah selalu terlambat, lalu merasa dijauhi oleh teman-temannya dalam bermain, saling mengejek yang membuat mereka menangis, merasa rendah diri karena nilai yang kurang memuaskan, kecewa karena selalu dibandingkan dengan adik atau kakaknya yang lebih baik, hingga kontak fisik diantara mereka yang berawal dari masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik. 
Bagi saya, menangani masalah-masalah sosial dan psikologi mereka jauh lebih utama dibandingkan masalah nilai-nilai akademis mereka. Sekolah dasar yang mereka jalani semestinya kita kelola menjadi dasarnya sekolah bagi mereka.  Artinya dimasa-masa inilah hal-hal yang mendasar yang kelak menjadi prinsip ataupun pedoman mereka dalam menempuh kehidupan realitanya kelak, mesti kita tanamkan melalui pengajaran dan keteladanan. Beberapa hal perlu ditanamkan kepada mereka seperti melatih rasa empati  terhadap temannya atau orang lain, melatih dalam menjaga lisan, melatih kemampuan berkolaborasi dengan gaya dan lagak temannya yang saling berbeda,  berusaha sopan dalam berbicara serta santun dalam bertindak, juga melatih untuk selalu bersyukur dalam setiap keadaan. Alhamdulillah, sampai saat ini kami masih sering dikunjungi para alumni baik yang sudah bekerja ataupun yang masih kuliah.  Banyak hal-hal tak terduga yang saya dapatkan berkaitan dengan para alumni. Betapa mereka yang dahulunya saat di SD dianggap “bukanlah siapa-siapa” tapi mampu mencapai prestasi yang membanggakan diusia matangnya.  Namun hal yang paling membuat haru bagi saya adalah betapa mereka masih mengingat kami dengan cara mengunjungi kami secara langsung.  Dan saat bercengkerama, mereka masih mengingat dengan detail peristiwa-peristiwa ataupun momen-momen saat kami masih menjadi gurunya...Itulah salah satu kebahagiaan saya sebagai seorang guru.
            Oh iya teman-teman pembaca.  Meskipun sekolah saya bukanlah sekolah inklusi, namun Yayasan Al Hanief Moeliza sebagai pengelola SD Al Hanief tetap membuka kesempatan untuk menerima calon-calon murid yang memiliki “kebutuhan khusus” seperti slown learner, ADHD (hiperaktif), autis, ataupun mereka yang psikologisnya terganggu cukup serius karena masalah orang tuanya dan lainnya.  Biasanya, model penerimaan anak-anak berkebutuhan khusus ini berbeda dengan anak-anak lainnya.  Ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan baik oleh calon murid ataupun orang tua yang bersangkutan.  Seperti misalnya, rekomendasi dari psikolog sekolah yang menguatkan bahwa anak tersebut bisa dipertimbangkan untuk diterima, juga adanya perjanjian yang mengikat antara orang tua murid dengan sekolah berkaitan dengan treatmen yang akan dijalani sang anak selama menempuh pendidikan di sekolah.
            Saya sendiri sejak pertama kali mengajar sampai sekarang ini sudah beberapa kali menjadi wali kelas untuk murid-murid yang diindikasikan memiliki “kebutuhan khusus”.  Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga bisa mendidik dan mengajar mereka terutama anak yang berkebutuhan khusus.  Gaya belajar dan sosialisasi tiap anak tentu berbeda, apalagi bagi anak berkebutuhan khusus.  Terkadang, tidak sedikit dari anak-anak yang mempertanyakan mengapa anggaplah si A boleh melakukan ini sementara kami tidak? Atau mengapa si A tidak mendapat konsekuensi karena suatu perbuatan yang menurut mereka itu tidak boleh dilakukan.  Tentu masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan berkaitan dengan adanya perbedaan penanganan guru terhadap mereka dan si A.  Nah...  untuk menjawab pertanyaan-pertanyaaan seperti ini, biasanya saya selalu mengambil momen opening dan closing di kelas selama lebih kurang 15 menit.   Oh iya, sekolah tempat saya mengajar memang selalu menjadwalkan opening dan closing selama 15 menit.  Kegiatan opening biasanya memang dimanfaatkan guru untuk berbagai hal dengan tujuan membuat anak rileks sehingga siap untuk belajar. Sedangkan closing biasanya untuk mengingatkan para murid dan menasehati tentang kebaikan-kebaikan ataupun refleksi hari itu.   Alhamdulillah, secara perlahan dan konsisten mereka yang memiliki “kebutuhan khusus” justru mendapat perhatian dan perlindungan dari teman-temannya yang normal.  Hal ini juga bisa disebabkan karena intensitas pertemuan mereka saat sholat dhuha dan dzuhur berjamaah di sekolah. 
Saya punya pengalaman istimewa menangani murid yang secara akademis tidak terdeteksi memiliki masalah bahkan cenderung di atas rata-rata, namun secara psikologis sang murid memiliki permasalahan sosial. Pengalaman ini terjadi dua tahun lalu.
Sekilas, anak ini seperti anak-anak lainnya.  Postur tubuhnya proporsional dan juga bentuk wajahnya baik-baik saja.  Namun, yang menjadi permasalahan adalah sang anak ini tidak mau berbicara dengan siapapun jika sudah berada di sekolah.  Jangankan berbicara, sekedar tersenyum saja sulit untuk melihatnya.  Bagaimana mungkin ada murid yang mampu bertahan untuk tidak berbicara sepatah katapun di sekolah, padahal keberadaannya setiap hari di sekolah adalah lebih kurang 8 jam...dan nyatanya ada..!!
Yang mengherankan lagi, bila di rumah sang anak berlaku seperti anak-anak lainnya yang normal.  Artinya ia bisa berbicara dengan penghuni rumah lainnya.  Sebagai seorang guru, saya mesti bersikap adil dan bijaksana dalam menanganinya.  Karena tentu saja dia akan mengalami suatu proses pembelajaran dan penilaian yang berbeda dengan lainnya.  Berkat bimbingan dan arahan dari psikolog sekolah kami serta kerjasama dengan teman-teman guru lainnya, saya mampu menangani anak tersebut.  Berita gembiranya adalah anak tersebut setelah lulus dari SD Al Hanief akhirnya diterima di sebuah pondok pesantren yang tergolong favorit di wilayah Karawang.  Kabarnya juga anak ini sudah mulai berbicara lebih banyak dibandingkan saat SD dahulu.  Tahukah pembaca siapa nama anak ini..? Key nama panggilannya.  Semoga kesuksesan buat dirinya.  Masih banyak lagi pengalaman-pengalaman yang cukup unik dan spesial untuk dituliskan berkaitan dengan penanganan murid-murid yang memiliki “kebutuhan khusus”.  Jika ada kesempatan, akan coba saya tuangkan pada waktu lain.
 Dari pengalaman-pengalaman tersebut menambah keyakinan saya bahwa menjadi guru di sekolah dasar pada hakekatnya justru memberikan pembelajaran kepada saya tentang bagaimana melatih kesabaran diri sendiri.  Saya juga banyak belajar dari kepolosan murid-murid tercinta saat mereka tersenyum, bercanda, marah, ataupun tersinggung. 
Di tengah- tengah sekolah kami ada sebuah pohon rambutan yang sangat rindang.  Di bawahnya terdapat dua sampai tiga kursi panjang untuk tempat rehat sejenak.  Banyak aktivitas kami lakukan di bawah pohon tersebut, mulai dari yang ringan-ringan seperti ngobrol-ngobrol layaknya curhat para murid pada gurunya sampai dengan kegiatan pembelajaran dilakukan di bawah pohon tersebut.  Tidak sedikit pula permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan sekolah bisa didiskusikan bahkan sampai pada tingkat solusinya diperoleh di bawah pohon rambutan tersebut.  Selain juga buat tempat ajang berfoto ria baik guru, orang tua murid, bahkan hingga alumni.
Sampai saat tulisan ini kugoreskan, sekolah tempatku mengajar sudah meluluskan para murid sejumlah 13 angkatan.  Semoga Allah senantiasa kuatkan hatiku dan tebalkan imanku sehingga pengabdianku sebagai seorang guru terjaga dengan baik. Yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai seorang guru atau pendidik selalu memiliki harapan dan prasangka yang positif terhadap setiap anak didik kita tanpa terkecuali. Jika anak-anak murid kita diibaratkan bibit pohon, tugas kita hanyalah berusaha meletakkan bibit tersebut di tanah yang tepat.  Setelah itu kita beri pupuk dan sirami dengan teratur.  Apakah bibit itu akan tumbuh dan berkembang sesuai harapan kita atau apakah bibit itu berkembang namun tidak sesuai dengan harapan kita atau bahkan bibit tersebut mati? Semua itu adalah ranahnya Sang Pemberi Kehidupan yakni Allah SWT.   Karena itu doakanlah murid-murid kita sebagaimana kita mendoakan anak-anak kandung kita sendiri.  Kita harus senantiasa bahagia selama mengajar dan mendidik mereka.


“kebahagiaan itu kita yang menciptakan bukan karena orang lain yang memberikan”



















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar