Alhamdulillah,...
dah lama banget rasanya gak nulis di blog pribadi ini. Kesempatan dan pemikiran lebih banyak dituangkan ataupun digoreskan di blog yayasan Al Bukhori. Maklumlah, Al Bukhori masih perlu syiar dan promosi terus agar semakin berkibar kiprahnya dan makin bermanfaat buat lingkungan.
Kalau sudah mendapat kepercayaan yang luar biasa dari lingkungan, maka jadi semakin ringanlah amanah kami selaku pengurus yayasan. Perlu diketahui bahwa Al Bukhori Tambun adalah lembaga pendidikan atau sekolah yang masih sangat butuh bantuan atau partisipasi dari donatur ataupun dermawan guna menunjang biaya operasionalnya. Lembaga pendidikan TPQ Al Bukhori ini memang sejak awal keberadaannya untuk memberikan manfaat atau kemaslahatan kepada warga Blok C RW 032 Perumahan Griya Asri 2 Tambun Selatan khususnya serta warga perumahan2 di sekitarnya. Karena itu biaya yang dikenakan kepada seluruh santri baik KB/TKQ atau TPQ sangatlah terjangkau atau bahkan bisa dikatakan sangat murah bila dibandingkan dengan sekolah2 sejenis di lingkungan Griya Asri 2 dan luar Griya Asri. Selain itu juga, untuk para santri yang dhuafa ataupun yatim diberi keringanan biaya sampai dengan pembebasan biaya selama menempuh pendidikan di Al Bukhori. Karena bagi kami, Pengurus Yayasan dan juga seluruh ustadzah pengajar adalah bagaimana anak2 di lingkungan dapat mempelajari Al Qur'an meskipun kondisi keuangannya dalam keadaan sulit. Allah lah tempat bergantung kami, dan tentu saja kami yakin bahwa Allah SWT akan memberikan jalan kepada kami selama kami amanah. Mustahil Allah tidak memberikan jalan kepada orang2 yang berjuang di jalan NYA....
Demikian sekilas saja tentang Al Bukhori...lebih lengkapnya silakan berselancar di albukhoriGA2tambun.blogspot.com
Demikian sekilas saja tentang Al Bukhori...lebih lengkapnya silakan berselancar di albukhoriGA2tambun.blogspot.com
Kali ini aku mau tulis tentang karyaku sendiri.
Alhamdulillah, belum lama ini aku mencoba untuk mengirimkan naskah ke Buku Guru Story. Kebetulan dalam rangka memperingati hari Pendidikan 2 Mei 2019 ini, ada penerbit dari Bandung yang menggagas membuat buku yang berisi tulisan para guru se Indonesia. Maksudnya adalah agar para guru mampu memberi inspirasi kepada dunia pendidikan untuk menjadi lebih baik di masa mendatang.
Puji syukur kehadirat Allah SWT. aku termasuk yang lolos sebagai penulis nasional tersebut. Insya Allah bukunya akan terbit sekitar bulan Agustus 2019 mendatang.
mau tau aku nulis apa...?
ini dia tulisannya......
Kebahagiaan Itu
Kita Yang Menciptakan
Perkenalkan,
namaku Imam Santoso. Hampir tujuh belas
tahun aku mengabdikan diri sebagai seorang guru ataupun pendidik di suatu
Sekolah Dasar yang bernama Al Hanief yang terletak di Kelurahan Sepanjang Jaya
Kecamatan Rawa Lumbu Kota Bekasi. Yayasan
Al Hanief Moeliza merupakan yayasan yang mengelola sekolah Al Hanief mulai
tingkat Kelompok Bermain hingga Sekolah Dasar.
SD nya mulai beroperasional sejak tahun pelajaran 2001/2002.
Tepat
bulan September 2002 yang lalu atau pada tahun pelajaran 2002/2003, aku
diterima menjadi seorang guru di SD Al Hanief.
Waktu itu SD nya masih bergabung atau satu lokasi dengan Kelompok
Bermain dan Taman Kanak-kanak di Perumahan Kemang Pratama Bekasi. Sebelum aku diterima di SD Al Hanief, aku
masih mengajar di suatu lembaga pendidikan kursus aritmatika (Sempoa) yang saat
itu pembelajaran menggunakan alat hitung sempoa sangat booming. Pertama diterima di
sekolah Al Hanief aku ditempatkan menjadi wali kelas dua, waktu itu memang hanya
ada dua jenjang kelas saja yakni kelas 1 sebanyak dua kelas (masing-masing 20
murid) dan kelas 2 sebanyak satu kelas (sebanyak 10 murid). .
Masih teringat proses seleksi yang aku jalani saat itu. Mulai dari seleksi berkas lamaran, kemudian
tes potensi umum, selanjutnya psikotes, tes baca al qur’an, microteaching dan
terakhir wawancara dengan ketua Yayasan Al Hanief Moeliza selaku pengelola SD Al Hanief. Konsultan yang menyeleksi saya waktu itu
adalah dari Gemilang Mutaffanin lembaga konsultan yang berasal dari Bandung
Jawa Barat. Alhamdulillah, setelah
melewati beberapa tahapan seleksi, saya bersama tiga teman lainnya akhirnya
resmi menjadi pengajar sekaligus pendidik di Sekolah Dasar Al Hanief. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah
murid semakin bertambah sehingga ruangan kelas sudah tidak mencukupi. Sebenarnya pihak yayasan ingin mengembangkan
gedung sekolah termasuk sarana prasarananya.
Namun, dengan luas tanah yang terbatas akhirnya yayasan membeli tanah di samping Yonif 202 Tajimalela, Rawa Panjang. Dan sejak tahun pelajaran 2004/2005 SD Al Hanief menempati gedung sekolah baru. Total luas area gedung Al Hanief yang baru adalah 6.280 meter persegi.
Sekolah
tempat saya mengajar termasuk salah satu
sekolah yang “marketnya” adalah untuk kalangan menengah ke atas. Untuk
pembiayaannya selevel dengan sekolah-sekolah ternama seperti Al Azhar, Al
Izhar, ataupun lainnya. Yayasan pun
memiliki komitmen untuk membatasi jumlah murid perkelas maksimal hanya 24
anak. Saya menjadi wali kelas 2 saat
itu, jumlah muridnya berjumlah 10 orang.
Maklum, untuk sekolah yang baru muncul sangat tidak mudah untuk merekrut
murid. Tentu banyak
pertimbangan-pertimbangan para orang tua calon murid sebelum berani memastikan
dan memutuskan anak-anaknya untuk dididik di Al Hanief.
Tahun
pertama memulai pengabdian sebagai seorang guru, tentu masih banyak yang perlu
untuk dipelajari, baik berkaitan dengan anak didik ataupun rekan guru lainnya. Beberapa
hal yang menarik berkaitan dengan sistem pembelajaran di sekolah Al Hanief
diantaranya adalah adanya kegiatan sholat dhuha setiap pagi sebelum aktivitas pembelajaran
reguler dan sholat Dzuhur berjamaah sebelum pulang sekolah. Pada tahun-tahun itu masih sangat sedikit
sekolah-sekolah baik swasta maupun negeri yang menjadwalkan kegiatan sholat
dhuha sebagai bagian dari pembelajaran reguler setiap harinya. Juga adanya program education fieldtrip yang saat itu masih belum banyak dimiliki oleh
sekolah-sekolah lainnya. Rutinitas sholat dhuha yang kami lakukan bersama
murid-murid ternyata memiliki dampak positif yang nyata dan signifikan terhadap
perkembangan perilaku maupun akademis murid-murid kami.
Beberapa dampak
positif yang ditimbulkan berkat kegiatan sholat dhuha ataupun Dzuhur berjamaah
diantaranya :
- · Timbulnya keakraban dan rasa solidaritas atau empati terhadap murid lainnya terutama pada beberapa anak yang teridentifikasi “kebutuhan khusus”.
- · Mengenal dan memahami perilaku2 positif sebagai acuan kehidupan sehari-hari ( sebelum dhuha biasanya ada tausiyah dari guru terlebih dahulu).
- · Menjadikan sholat dhuha menjadi kebiasaan yang sudah melekat pada diri murid2.
- · Menanamkan ke para murid bahwa Allah swt pemilik ilmu yang ada di alam semesta ini, karena itu sebelum kita belajar kita harus puja dan puji terlebih dahulu sang Pemilik Ilmu tersebut melalui sholat dhuha.
Aktivitas
sehari-hari saya di sekolah diawali
dengan menyambut murid-murid tercinta di gerbang masuk sekolah. Biasanya kami yang mendapat tugas ini sudah
siap sejak pukul 06.30 wib. Dengan wajah
ramah dan penuh senyuman kami menyambut anak-anak seraya menyapanya dan
sesekali mengajak berbicara bilamana ada murid yang datang tidak dalam keadaan
ceria. Biasanya kegiatan penyambutan ini
berlangsung hingga pukul 07.15 wib.
Setelah itu anak-anak bersiap menuju aula untuk melaksanakan kegiatan ikrar
dan sholat dhuha. Namun, biasanya
sebelum kegiatan ini dimulai mereka melantunkan asmaul husna dan beberapa pujian
kepada Allah serta bershalawat. Kegiatan
ini dibimbing oleh dua orang guru yang bertugas dan berlangsung sampai pukul
08.00 wib. Selanjutnya anak-anak masuk ke kelas untuk pembelajaran reguler
sampai pukul 14.00 wib setelah diselingi waktu istirahat dan sholat dzuhur
berjamaah.
Sungguh,
bagi diriku selama mengajar dan mendidik anak-anak murid di SD Al Hanief banyak
pembelajaran-pembelajaran ataupun pengalaman-pengalaman yang aku peroleh.
Bagaimana aku yang dahulu sebelum mengajar di Al Hanief bisa dibilang sangat
jarang sekali melakukan sholat dhuha, tapi alhamdulillah sejak menjadi guru di
Al Hanief kebiasaan sholat dhuha menjadi rutinitas. Dan saya merasakan perubahan dalam jiwa dan
kehidupan menjadi lebih baik.
Mendidik,
mengajar, dan membimbing anak-anak di usia sekolah dasar memang penuh
pengalaman yang luar biasa. Bagaimana
saya mesti bersikap menghadapi permasalahan-permasalahan yang dialami
mereka. Mulai dari datang ke sekolah
selalu terlambat, lalu merasa dijauhi oleh teman-temannya dalam bermain, saling
mengejek yang membuat mereka menangis, merasa rendah diri karena nilai yang
kurang memuaskan, kecewa karena selalu dibandingkan dengan adik atau kakaknya
yang lebih baik, hingga kontak fisik diantara mereka yang berawal dari masalah
yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik.
Bagi saya,
menangani masalah-masalah sosial dan psikologi mereka jauh lebih utama dibandingkan
masalah nilai-nilai akademis mereka. Sekolah dasar yang mereka jalani semestinya
kita kelola menjadi dasarnya sekolah bagi mereka. Artinya dimasa-masa inilah hal-hal yang
mendasar yang kelak menjadi prinsip ataupun pedoman mereka dalam menempuh
kehidupan realitanya kelak, mesti kita tanamkan melalui pengajaran dan
keteladanan. Beberapa hal perlu ditanamkan kepada mereka seperti melatih rasa
empati terhadap temannya atau orang lain,
melatih dalam menjaga lisan, melatih kemampuan berkolaborasi dengan gaya dan lagak
temannya yang saling berbeda, berusaha sopan
dalam berbicara serta santun dalam bertindak, juga melatih untuk selalu
bersyukur dalam setiap keadaan. Alhamdulillah, sampai saat ini kami masih
sering dikunjungi para alumni baik yang sudah bekerja ataupun yang masih
kuliah. Banyak hal-hal tak terduga yang saya
dapatkan berkaitan dengan para alumni. Betapa mereka yang dahulunya saat di SD
dianggap “bukanlah siapa-siapa” tapi mampu
mencapai prestasi yang membanggakan diusia matangnya. Namun hal yang paling membuat haru bagi saya
adalah betapa mereka masih mengingat kami dengan cara mengunjungi kami secara langsung. Dan saat bercengkerama, mereka masih
mengingat dengan detail peristiwa-peristiwa ataupun momen-momen saat kami masih
menjadi gurunya...Itulah salah satu kebahagiaan saya sebagai seorang guru.
Oh iya teman-teman pembaca. Meskipun sekolah saya bukanlah sekolah
inklusi, namun Yayasan Al Hanief Moeliza sebagai pengelola SD Al Hanief tetap
membuka kesempatan untuk menerima calon-calon murid yang memiliki “kebutuhan
khusus” seperti slown learner, ADHD
(hiperaktif), autis, ataupun mereka yang psikologisnya terganggu cukup serius karena
masalah orang tuanya dan lainnya. Biasanya, model penerimaan anak-anak
berkebutuhan khusus ini berbeda dengan anak-anak lainnya. Ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan
baik oleh calon murid ataupun orang tua yang bersangkutan. Seperti misalnya, rekomendasi dari psikolog
sekolah yang menguatkan bahwa anak tersebut bisa dipertimbangkan untuk
diterima, juga adanya perjanjian yang mengikat antara orang tua murid dengan
sekolah berkaitan dengan treatmen
yang akan dijalani sang anak selama menempuh pendidikan di sekolah.
Saya sendiri sejak pertama kali
mengajar sampai sekarang ini sudah beberapa kali menjadi wali kelas untuk
murid-murid yang diindikasikan memiliki “kebutuhan khusus”. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga
bisa mendidik dan mengajar mereka terutama anak yang berkebutuhan khusus. Gaya belajar dan sosialisasi tiap anak tentu
berbeda, apalagi bagi anak berkebutuhan khusus.
Terkadang, tidak sedikit dari anak-anak yang mempertanyakan mengapa
anggaplah si A boleh melakukan ini sementara kami tidak? Atau mengapa si A
tidak mendapat konsekuensi karena suatu perbuatan yang menurut mereka itu tidak
boleh dilakukan. Tentu masih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan berkaitan dengan adanya perbedaan
penanganan guru terhadap mereka dan si A.
Nah... untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaaan seperti ini, biasanya saya selalu mengambil momen opening dan closing di kelas selama lebih kurang 15 menit. Oh iya, sekolah tempat saya mengajar memang
selalu menjadwalkan opening dan closing selama 15 menit. Kegiatan opening biasanya memang dimanfaatkan
guru untuk berbagai hal dengan tujuan membuat anak rileks sehingga siap untuk
belajar. Sedangkan closing biasanya
untuk mengingatkan para murid dan menasehati tentang kebaikan-kebaikan ataupun
refleksi hari itu. Alhamdulillah,
secara perlahan dan konsisten mereka yang memiliki “kebutuhan khusus” justru
mendapat perhatian dan perlindungan dari teman-temannya yang normal. Hal ini juga bisa disebabkan karena
intensitas pertemuan mereka saat sholat dhuha dan dzuhur berjamaah di
sekolah.
Saya
punya pengalaman istimewa menangani murid yang secara akademis tidak terdeteksi
memiliki masalah bahkan cenderung di atas rata-rata, namun secara psikologis
sang murid memiliki permasalahan sosial. Pengalaman ini terjadi dua tahun lalu.
Sekilas, anak
ini seperti anak-anak lainnya. Postur
tubuhnya proporsional dan juga bentuk wajahnya baik-baik saja. Namun, yang menjadi permasalahan adalah sang
anak ini tidak mau berbicara dengan siapapun jika sudah berada di sekolah. Jangankan berbicara, sekedar tersenyum saja
sulit untuk melihatnya. Bagaimana
mungkin ada murid yang mampu bertahan untuk tidak berbicara sepatah katapun di
sekolah, padahal keberadaannya setiap hari di sekolah adalah lebih kurang 8
jam...dan nyatanya ada..!!
Yang
mengherankan lagi, bila di rumah sang anak berlaku seperti anak-anak lainnya
yang normal. Artinya ia bisa berbicara
dengan penghuni rumah lainnya. Sebagai
seorang guru, saya mesti bersikap adil dan bijaksana dalam menanganinya. Karena tentu saja dia akan mengalami suatu
proses pembelajaran dan penilaian yang berbeda dengan lainnya. Berkat bimbingan dan arahan dari psikolog
sekolah kami serta kerjasama dengan teman-teman guru lainnya, saya mampu
menangani anak tersebut. Berita gembiranya
adalah anak tersebut setelah lulus dari SD Al Hanief akhirnya diterima di
sebuah pondok pesantren yang tergolong favorit di wilayah Karawang. Kabarnya juga anak ini sudah mulai berbicara
lebih banyak dibandingkan saat SD dahulu. Tahukah pembaca siapa nama anak ini..? Key
nama panggilannya. Semoga kesuksesan
buat dirinya. Masih banyak lagi
pengalaman-pengalaman yang cukup unik dan spesial untuk dituliskan berkaitan
dengan penanganan murid-murid yang memiliki “kebutuhan khusus”. Jika ada kesempatan, akan coba saya tuangkan
pada waktu lain.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut menambah
keyakinan saya bahwa menjadi guru di sekolah dasar pada hakekatnya justru memberikan
pembelajaran kepada saya tentang bagaimana melatih kesabaran diri sendiri. Saya juga banyak belajar dari kepolosan
murid-murid tercinta saat mereka tersenyum, bercanda, marah, ataupun tersinggung.
Di tengah-
tengah sekolah kami ada sebuah pohon rambutan yang sangat rindang. Di bawahnya terdapat dua sampai tiga kursi
panjang untuk tempat rehat sejenak. Banyak
aktivitas kami lakukan di bawah pohon tersebut, mulai dari yang ringan-ringan
seperti ngobrol-ngobrol layaknya curhat para murid pada gurunya sampai dengan kegiatan
pembelajaran dilakukan di bawah pohon tersebut.
Tidak sedikit pula permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan
sekolah bisa didiskusikan bahkan sampai pada tingkat solusinya diperoleh di
bawah pohon rambutan tersebut. Selain
juga buat tempat ajang berfoto ria baik guru, orang tua murid, bahkan hingga
alumni.
Sampai
saat tulisan ini kugoreskan, sekolah tempatku mengajar sudah meluluskan para
murid sejumlah 13 angkatan. Semoga Allah
senantiasa kuatkan hatiku dan tebalkan imanku sehingga pengabdianku sebagai
seorang guru terjaga dengan baik. Yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai
seorang guru atau pendidik selalu memiliki harapan dan prasangka yang positif
terhadap setiap anak didik kita tanpa terkecuali. Jika anak-anak murid kita
diibaratkan bibit pohon, tugas kita hanyalah berusaha meletakkan bibit tersebut
di tanah yang tepat. Setelah itu kita
beri pupuk dan sirami dengan teratur.
Apakah bibit itu akan tumbuh dan berkembang sesuai harapan kita atau
apakah bibit itu berkembang namun tidak sesuai dengan harapan kita atau bahkan
bibit tersebut mati? Semua itu adalah ranahnya Sang Pemberi Kehidupan yakni
Allah SWT. Karena itu doakanlah
murid-murid kita sebagaimana kita mendoakan anak-anak kandung kita
sendiri. Kita harus senantiasa bahagia
selama mengajar dan mendidik mereka.
“kebahagiaan itu kita yang
menciptakan bukan karena orang lain yang memberikan”
















































Tidak ada komentar:
Posting Komentar