Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Ada suatu akronim yang paling familiar bahkan bisa dikatakan sudah merasuk ke dalam sukma para guru atau pendidik, apa itu..? RPP,... yach RPP.
RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan suatu pedoman atau acuan yang digunakan seorang guru saat melakukan kegiatan pembelajaran. Tujuan RPP dibuat oleh guru sebenarnya untuk
membantunya dalam kegiatan belajar mengajar agar sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada hari itu. Namun pada kenyataannya RPP menjadi suatu momok bahkan mungkin "monster" bagi para guru karena untuk menyiapkannya terkadang membutuhkan waktu dan tenaga khusus yang sulit didapat. Sehingga tidak jarang banyak terjadi beberapa kejadian-kejadian lucu. Seperti misalnya, saat disupervisi oleh diknas terdapat kekeliruan-kekeliruan seperti tugas di Bekasi tapi RPPnya daerah Bandung, atau saat diperiksa tahun yang tertera di RPP tahun 2015 padahal pemeriksaan tahun 2018, atau bahkan yang lebih lucu lagi...(mau bilang lebih parah gak tega) di RPPnya terdapat nama orang lain yang bukan nama yang bersangkutan ....😁
membantunya dalam kegiatan belajar mengajar agar sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada hari itu. Namun pada kenyataannya RPP menjadi suatu momok bahkan mungkin "monster" bagi para guru karena untuk menyiapkannya terkadang membutuhkan waktu dan tenaga khusus yang sulit didapat. Sehingga tidak jarang banyak terjadi beberapa kejadian-kejadian lucu. Seperti misalnya, saat disupervisi oleh diknas terdapat kekeliruan-kekeliruan seperti tugas di Bekasi tapi RPPnya daerah Bandung, atau saat diperiksa tahun yang tertera di RPP tahun 2015 padahal pemeriksaan tahun 2018, atau bahkan yang lebih lucu lagi...(mau bilang lebih parah gak tega) di RPPnya terdapat nama orang lain yang bukan nama yang bersangkutan ....😁
Kenapa semua itu bisa terjadi..? tidak lain dan tidak bukan adalah karena aplikasi hebat yang namanya copas alias copy paste...😎. Tentu saja temuan-temuan ini menjadikan bahan evaluasi apakah RPP itu masih diperlukan?
Berapa banyak kertas yang dihabiskan untuk membuat satu RPP untuk satu kali pertemuan pengajaran setiap hari? 5 lembar kertas? 10 lembar kertas? 15 lembar kertas?........?
Lalu bagaimana jika dalam sepekan misalkan 5 kali pertemuan lalu kalikan dengan 10 lembar kalikan lagi dengan sebulan, setahun,... berapa banyak kertas yang dibutuhkan. Itu baru satu guru dan satu mata pelajaran....kebayang khan....berton-ton kertas akan tergunakan. Tentu merupakan pemborosan, disaat hutan-hutan kita mengalami penurunan produktivitas akibat keserakahan umat manusia.
RPP mau tidak mau turut bertanggungjawab membentuk para pengajar dan pendidik menjadi seorang guru administrasi. Padahal sejatinya seharusnya pengajar dan pendidik menjadi guru hati. Guru administrasi selalu sibuk dengan urusan kertas dan rencana pengajaran yang bisa jadi melenceng jauh dengan saat pelaksanaan, sedangkan guru hati selalu sibuk dengan siswa untuk berinteraksi mengamati potensi dan memotivasi agar lebih percaya diri dan mandiri.....silakan jika tidak setuju..😉
Penulis masih ingat saat pertama kali mengajar atau awal-awal mengajar di sekolah dasar, tidak pernah sejlimet ini mempersiapkan rencana pengajaran. Saya hanya membaca materi pada buku paket sebelum materi itu disampaikan kepada siswa. Bisa sehari atau dua hari sebelumnya atau juga terkadang beberapa jam sebelum pengajaran dimulai. Sambil membaca lalu membuat catatan-catatan penting yang akan menjadi poin utama materi pembelajaran tersebut. Lalu mempersiapkan lembar kerja siswa sesuai kebutuhan siswa terhadap materi tersebut.....that's simple. Pada prakteknya malah terkadang catatan-catatan tersebut tidak tersampaikan pada hari itu disebabkan situasi dan kondisi kelas yang tidak selalu sesuai dengan harapan kita saat menulis catatan tersebut.
Kembali ke RPP..
Pada perkembangannya, RPP makin membuat guru-guru repot dan sedikit stress. Saat ini ada komponen-komponen RPP yang baru misalkan harus mengintegrasikan RPP ke dalam karakter-karakter positif siswa atau istilah kerennya PPK.....(Penguatan Pendidikan Karakter........bener khan yach..?). Selanjutnya ada lagi yang dikenal dengan istilah literasi....(yach bahasa kerennya baca-baca deh..), padahal literasi itu tidak sekedar kegiatan membaca saja tapi lebih dari itu. Nach...yang paling gress adalah bagaimana membuat soal-soal yang berlandaskan HOTS ...(mungkin maksudnya yang pedas-pedas...hehehehe...😔). Juga gak ketinggalan RPP harus mencakup 4C...(cari sendiri kepanjangannya...). Berdasarkan aturan-aturan tersebut bisa dibayangkan jumlah halaman RPP yang dibuat guru, itu belom termasuk lampiran dan penilaian....... mumet deh...😦
Seberapa penting seh RPP itu ?
nah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya para guru juga menjawab pertanyaan ini dengan jujur dan bertanggungjawab....
- Tanpa RPP apakah anda tidak bisa mengajar?
- Apakah pengajaran anda akan kacau balau tanpa RPP?
- Apakah anda selama mengajar tidak memberikan penguatan karakter atau motivasi jika tanpa RPP?
- Apakah RPP yang anda buat bisa sepenuhnya dilaksanakan sesuai yang tertulis?
- Apakah tanpa RPP anda tidak mengetahui bagaimana caranya menilai hasil pekerjaan siswa?
- Apakah pembelajaran yang anda lakukan gagal jika tanpa RPP?
- Apakah anda membuat RPP secara murni tanpa copas?
- Lebih banyak mana yang anda temui, keadaan siswa sesuai dengan RPP atau justru sebaliknya?
- Manakah yang akan anda pilih, memperlakukan siswa sesuai RPP atau memperlakukan siswa sesuai kebutuhannya saat itu?
Jawaban anda yang jujur dapat menyimpulkan apakah RPP masih berguna untuk anda?
Saya pernah membuat RPP yang menurut saya saat itu merupakan RPP terbaik yang pernah saya buat yakni pada saat mengikuti pelatihan. Namun saat saya mencoba pada siswa ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Banyak hal-hal yang diluar perkiraan kita saat pembelajaran berlangsung. Wajar saja, siswa adalah makhluk hidup yang mempunyai emosi dan rasa yang berbeda antar mereka. Bukan sekelompok robot yang mudah dikondisikan sekehendak RPP "sakti" yang kita buat. Ada banyak hal tak terduga di luar prediksi kita saat merancang RPP tersebut.
Saya pernah mendengar kalimat bijak bahwa mengajar itu adalah seni. Sepengetahuan saya seniman itu selalu menghasilkan karya yang luar biasa dan spektakular karena intuisinya atau panduan hatinya. Jadi seniman tidak memerlukan rencana yang njlimet saat memulai karyanya atau membuat rencana detail tentang karya yang akan dibuatnya karena saat ia memulai karyanya seniman akan mengikuti intuisinya.........
Saya berharap seorang guru sebagai pengajar sekaligus pendidik juga berkarya bak seorang seniman. Mengajar dengan hati dan mengikuti kebutuhan siswanya saat itu, meskipun tetap dibutuhkan rencana yang minimalis tentunya.....😎
Yakinlah RPP yang tebal menjadikan seseorang malas untuk membacanya apalagi mengkajinya.
Saya sendiri setuju sesuatu hal yang akan kita kerjakan sebaiknya dibuat rencana dahulu. Karena perencanaan yang baik adalah separuh dari keberhasilan. Tetapi, dengan RPP yang sampai menghabiskan 10 lembar kertas satu kali pertemuan adalah kemubaziran tingkat tinggi. Coba anda pikirkan dan jawab dengan jujur, bandingkanlah waktu yang tersita untuk membuat RPP dengan waktu saat pembelajaran dilakukan. Anggaplah satu kali pertemuan 60 - 90 menit, apakah RPP yang anda buat menghabiskan waktu lebih sedikit daripada pertemuannya..? jawabnya NO...!! kecuali anda copas plek...plek...plek....
Saya sendiri masih berkeyakinan dan sangat percaya kalau guru memiliki intuisi yang cukup untuk melakukan improvisasi dalam pengajarannya. So..... jadikan guru sebagai insan yang mulia bukan robot yang dalam kendali pemerintah....
Di era milenial ini semuanya serba IT.... guru RPP bisa digantikan oleh robot tetapi guru hati tidak akan mungkin tergantikan sampai kapanpun..... Robot bisa diinstruksikan mengajar sesuai RPP, tetapi robot takkan mampu mendidik siswa dengan adab dan akhlak.....
Tulisan di atas sekedar mengisi sela-sela pemikiran, karena saya pun sedang mumet nyiapin RPP buat disupervisi kepala sekolah.......😎.
Semoga RPP tidak menjadikan semua Guru Hati menjadi Guru Administrasi....
Salam Guru Merdeka Belajar....!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar