Assalamua'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Alhamdulillah,
Konsultasi laporan pendidikan anak SD Al Hanief sudah berlalu. Tepat hari Selasa, 24 Desember 2019 kemarin sudah dilaksanakan konsultasi dan penyerahan rapor anak didik kepada orang tuanya.
Meskipun suasana sekolah tidak seramai biasanya karena anak-anak sedang menikmati libur sejak hari Senin ditambah lagi dengan cuti bersama beberapa perusahaan, namun orang tua yang hadir di sekolah untuk mengetahui perkembangan anaknya masih cukup signifikan.
Kelas saya sendiri 6A, yang hadir sekitar 70% selebihnya akan konsultasi rapor setelah masa liburan berakhir. Satu dua orang tua masih ada yang menanyakan perihal peringkat atau ranking anak-anaknya meskipun agak malu karena sebenarnya merekapun sudah mendapat informasi mengenai penting/tidaknya ranking untuk anak mereka.
Rasanya tidak adil juga kalau sekolah tidak diperbolehkan menggunakan rangking untuk anak-anak didiknya. Karena faktanya dunia kehidupan sesungguhnya setelah anak-anak didik kita menyelesaikan sekolahnya banyak yang menggunakan sistem rangking atau peringkat sesuai kebutuhannya. Contohnya : pemberian beasiswa untuk 20 siswa terbaik masuk ke perguruan tinggi tanpa tes. Selain itu jika mereka akan memasuki dunia kerja tentu saja perusahaan akan menerima hanya bagi calon karyawan yang menempati peringkat terbaik. Juga dalam penentuan juara setiap pertandingan hanya peringkat 1, 2, dan 3 yang berhak mendapat medali. Bahkan yang paling ekstrem adalah dalam penentuan presiden di negara kita pun menggunakan sistem peringkat, hanya suara terbanyaklah atau dengan kata lain hanya peringkat pertamalah yang berhak menduduki jabatan presiden.
Allah SWT.pun memberlakukan peringkat kepada para rasulnya. Masihkah kita ingat dengan istilah rasul ulul azmi ? Berdasarkan QS. Al Ahzab ayat 7, para ulama menafsirkan bahwa Allah melebihkan 5 orang rasul (Muhammad SAW, Nuh , Ibrahim , Musa , Isa ) terhadap yang lainnya dikarenakan mereka memiliki daya juang yang kuat, tingkat kesabaran yang sangat tinggi dalam menjalankan misi dakwahnya. Selain itu surga dan neraka pun memiliki tingkatan atau peringkat. Untuk surga terbaik adalah Firdaus menyusul selanjutnya 'Adn, Na'im, Ma'wa, Darussalam, Darul Muqamah, Al Maqamul Amin, Khuldi. Begitu pula dengan neraka (jahanam, Jahim, Hawiyah, Wail, Sa'ir, Saqar, Hutomah).
Konsultasi laporan pendidikan anak SD Al Hanief sudah berlalu. Tepat hari Selasa, 24 Desember 2019 kemarin sudah dilaksanakan konsultasi dan penyerahan rapor anak didik kepada orang tuanya.
Meskipun suasana sekolah tidak seramai biasanya karena anak-anak sedang menikmati libur sejak hari Senin ditambah lagi dengan cuti bersama beberapa perusahaan, namun orang tua yang hadir di sekolah untuk mengetahui perkembangan anaknya masih cukup signifikan.
Kelas saya sendiri 6A, yang hadir sekitar 70% selebihnya akan konsultasi rapor setelah masa liburan berakhir. Satu dua orang tua masih ada yang menanyakan perihal peringkat atau ranking anak-anaknya meskipun agak malu karena sebenarnya merekapun sudah mendapat informasi mengenai penting/tidaknya ranking untuk anak mereka.
Rasanya tidak adil juga kalau sekolah tidak diperbolehkan menggunakan rangking untuk anak-anak didiknya. Karena faktanya dunia kehidupan sesungguhnya setelah anak-anak didik kita menyelesaikan sekolahnya banyak yang menggunakan sistem rangking atau peringkat sesuai kebutuhannya. Contohnya : pemberian beasiswa untuk 20 siswa terbaik masuk ke perguruan tinggi tanpa tes. Selain itu jika mereka akan memasuki dunia kerja tentu saja perusahaan akan menerima hanya bagi calon karyawan yang menempati peringkat terbaik. Juga dalam penentuan juara setiap pertandingan hanya peringkat 1, 2, dan 3 yang berhak mendapat medali. Bahkan yang paling ekstrem adalah dalam penentuan presiden di negara kita pun menggunakan sistem peringkat, hanya suara terbanyaklah atau dengan kata lain hanya peringkat pertamalah yang berhak menduduki jabatan presiden.
Allah SWT.pun memberlakukan peringkat kepada para rasulnya. Masihkah kita ingat dengan istilah rasul ulul azmi ? Berdasarkan QS. Al Ahzab ayat 7, para ulama menafsirkan bahwa Allah melebihkan 5 orang rasul (Muhammad SAW, Nuh , Ibrahim , Musa , Isa ) terhadap yang lainnya dikarenakan mereka memiliki daya juang yang kuat, tingkat kesabaran yang sangat tinggi dalam menjalankan misi dakwahnya. Selain itu surga dan neraka pun memiliki tingkatan atau peringkat. Untuk surga terbaik adalah Firdaus menyusul selanjutnya 'Adn, Na'im, Ma'wa, Darussalam, Darul Muqamah, Al Maqamul Amin, Khuldi. Begitu pula dengan neraka (jahanam, Jahim, Hawiyah, Wail, Sa'ir, Saqar, Hutomah).
So.... mengapa kita menjadi alergi dengan rangking atau peringkat? Rangking atau peringkat atau urutan merupakan hasil akhir dari ikhtiar kita selama menjalani prosesnya. Jadi rangking atau peringkat itu berhubungan dengan perjuangan yang telah kita lakukan dalam kehidupan ini. Bahkan jauh sebelum kita menjadi bentuk manusia sekarang ini, perjuangan itu sudah dimulai yakni dengan berhasil lolosnya satu sperma dari sekian juta sperma yang saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik atau menjadi yang pertama mencapai sel telur. Karena hanya satu sperma saja yang dapat membuahi sel telur.
Sebagian pakar juga memberi penilaian jika sistem rangking di rapor dihilangkan. Kalau sekedar menghilangkan rangking di rapor sepertinya tidak menjadi masalah. Hanya saja jangan sampai kita mendadak alergi jika mendengar kata-kata rangking. Jika rangking menjadi sesuatu hal yang biasa saja jadi tidak perlu didiskusikan lalu mengapa pemerintah kebakaran jenggot melihat hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang terbaru tahun 2019, Indonesia yang berada di rangking 72 dari 77 negara...sangat miris.. Sekedar informasi bahwa PISA adalah penilaian kemampuan para pelajar di seluruh dunia dalam hal kemampuan matematika, sains, dan literasi. Kemampuan yang sama yang diujikan pada anak-anak Indonesia sejak tingkat SD hingga SMA dengan label Ujian Nasional.
Sebagian pakar juga memberi penilaian jika sistem rangking di rapor dihilangkan. Kalau sekedar menghilangkan rangking di rapor sepertinya tidak menjadi masalah. Hanya saja jangan sampai kita mendadak alergi jika mendengar kata-kata rangking. Jika rangking menjadi sesuatu hal yang biasa saja jadi tidak perlu didiskusikan lalu mengapa pemerintah kebakaran jenggot melihat hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang terbaru tahun 2019, Indonesia yang berada di rangking 72 dari 77 negara...sangat miris.. Sekedar informasi bahwa PISA adalah penilaian kemampuan para pelajar di seluruh dunia dalam hal kemampuan matematika, sains, dan literasi. Kemampuan yang sama yang diujikan pada anak-anak Indonesia sejak tingkat SD hingga SMA dengan label Ujian Nasional.
Lalu kenapa sekarang rangking menjadi pro dan kontra....
Yuup, segala sesuatu yang kita hadapi atau jalani pastilah mengandung pro dan kontra. Justru itu hal yang baik karena dengan adanya pro kontra kita dapat melihat bagaimana reaksi orang-orang dalam menyikapi hal tersebut. Selain itu juga dapat meningkatkan wawasan kita...😎
Terus kenapa sekarang sistem rangking dipermasalahkan dan mesti dihilangkan dari rapor anak? katanya seh rangking itu membuat ketidakadilan pada anak didik. Alasannya karena tidak bisa seorang anak yang pandai di Matematika lalu dibandingkan dengan anak yang pandai di olahraga. Atau anak yang hebat dalam menulis dibandingkan dengan anak yang pandai seninya. Lho koq begitu..? memang siapa yang membandingkan? itu loh...khan rangking pada rapor merupakan hasil dari seluruh mata pelajaran, padahal ada anak yang sangat hebat dalam satu dua pelajaran tapi sekaligus lemah untuk banyak pelajaran yang lain. Kalau begitu, bagaimana jika rangking dibuat untuk setiap mata pelajaran. Misalnya untuk pelajaran IPA siapa terbaiknya, lalu untuk pelajaran Matematika siap terbaiknya, begitu seterusnya...mau seperti itu..?
Padahal rangking itu juga diperlukan oleh seorang guru dalam memetakan kemampuan anak-anak didiknya sebagai refleksi atas pembelajarannya selama ini. Rangking ini juga diperlukan guru bilamana ada pembelajaran kelompok, jadi guru bisa membagi kelompok dengan kemampuan yang seimbang sehingga aktivitas pembelajaran kelompok menjadi lebih hidup dan bermakna.
Masalah sebenarnya adalah kekurangpahaman akan penjelasan makna rangking serta penghakiman sebagian orang atas orang lain berdasarkan rangking ini. Tidak sedikit dari orang tua yang sangat membanggakan anaknya karena mendapat rangking 1 di sekolah, seakan-akan dengan predikat rangking satu anaknya merupakan yang terbaik dalam segala hal di sekolah. Padahal anaknya "sangat menderita" saat pelajaran kreativitas maupun olahraga karena sang anak merasa "gagal" dalam pelajaran ini. Orang tua dan guru sangat berperan dalam meluruskan makna rangking ini. Rangking itu hasil perjuangan kompetisi anak harus diapresiasi namun yang terpenting adalah bagaimana orang tua maupun guru lebih menitikberatkan pada bagaimana anak berkolaborasi dengan anak lainnya. Dalam berkompetisi pasti ada menang ada kalah, ada hati yang tersakiti dan ada rasa benci akibat kekalahan. Berbeda dengan kolaborasi, yang selalu memadukan satu keunggulan dengan keunggulan lainnya sehingga semua menjadi pemenang, hati selalu gembira dan ada rasa bahagia dalam menjalaninya.
Rangking itu bukan segalanya...yuup benar seratus persen. Menurut hasil penelitian, dalam menjalani kehidupan, mereka-mereka yang dahulunya saat sekolah selalu menduduki rangking 1 sampai 3 ternyata tidak lebih baik dibandingkan dengan yang sekolahnya biasa-biasa saja. Meskipun tidak sedikit pula mereka yang selalu menempati rangking terbaik di sekolahnya juga berhasil dalam kehidupan di masa depannya.
Yang pasti setiap kita adalah rangking satu. Karena kita merupakan produk yang terbaik dari sekian juta sperma yang berhasil membuahi sel telur. lalu mengapa kita begitu pusing dengan rangking yang tertulis hanya pada selembar kertas..? Mari kita ajari dan bimbing anak-anak kita untuk selalu belajar melihat keunggulan pada orang lain, karena pada suatu kehidupan nanti mereka akan memerlukan orang-orang yang unggul dibidangnya masing-masing untuk saling bekerjasama menghasilkan sesuatu yang bermanfaat... itulah KOLABORASI......
LANTAS.... APAKAH RANGKING MASIH PERLU..? 😉
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar